Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 08/10/2012, 20:04 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com  - Meski sudah banyak yang tahu bahwa merokok itu membahayakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain dan banyak pula yang sudah tahu berbagai efek samping merokok, namun tidak bisa dipungkiri tetap ada sebagian perempuan yang merokok. Mereka ini merokok mulai dari level ‘ringan’ (social smoker) sampai level ‘berat’ yang bisa menghabiskan 2 hingga 3 bungkus sehari.

Banyak di antara perempuan perokok mau berhenti ketika mengetahui bahwa mereka sedang hamil. Namun mereka seringkali kembali merokok ketika bayi sudah dilahirkan. Pada banyak kasus yang saya temui, dengan alasan sudah kembali merokok mereka berhenti menyusui. Mereka khawatir efek samping dari rokok yang mereka hisap akan masuk ke dalam ASI. Betul, bahwa ada ada efek samping dari rokok yang mempengaruhi ASI. Tetapi perlu juga dipikirkan, tidakkah lebih berbahaya jika seorang bayi, yang hidup di lingkungan perokok yang penuh polusi, justru tidak mendapatkan ASI sebagai asupan yang kita ketahui mampu meningkatkan daya tahan tubuhnya?

Mari kita bahas lebih detail mengenai efek samping dari rokok pada ibu menyusui dan bayinya:

-   Merokok dapat mengurangi hormon prolaktin di tubuh ibu, sehingga menurunkan produksi ASI. Jika jumlah produksi ASI berkurang secara tidak langsung akan memunculkan peluang untuk early weaning atau menyapih terlalu dini.
-   Merokok juga mempengaruhi LDR (let down reflects), sehingga meskipun tubuh memproduksi ASI namun tubuh lebih sulit untuk melepaskannya keluar untuk dinikmati bayi.
-   Bayi yang terpapar asap rokok memiliki tingkat risiko mengidap penyakit radang paru-paru, asma, infeksi telinga, bronkitis, infeksi sinus, dan juga iritasi mata.
-   Bayi lebih cenderung mudah kolik. Para peneliti mempercayai bahwa hal ini terjadi tidak hanya karena kandungan nikotin yang masuk ke dalam ASI namun juga bayi sebagai perokok pasif di dalam rumah tersebut menjadi mudah gelisah dan rewel. Menghadapi bayi baru lahir yang normal saja sudah membuat ibu baru kewalahan apalagi jika ditambah dengan kegelisahan bayi yang lebih tinggi levelnya karena efek samping asap rokok. Bisa dibayangkan bukan keribetannya?
-   Bayi dari ayah dan ibu yang merokok 7 kali lebih berpeluang untuk meninggal karena SIDS (Sudden Infant Death Syndrome).
-   Anak-anak dari ayah dan ibu yang merokok biasanya 2 hingga 3 kali lebih sering ke dokter karena infeksi saluran pernapasan atau penyakit yang berkaitan dengan alergi.
-   Anak-anak yang terpapar asap rokok di rumah cenderung untuk memiliki kadar darah HDL yang rendah, padahal kolesterol baik ini mampu melindungi mereka dari penyakit jantung koroner.
-   Anak-anak dari orang tua yang merokok biasanya juga akan menjadi perokok ketika mereka sudah beranjak dewasa.
-   Penelitian baru-baru ini juga menemukan bahwa anak yang tumbuh di lingkungan tercemar asap rokok memiliki tingkat risiko mengidap kanker paru-paru di kemudian hari.

Sederetan risiko dari bahaya merokok yang disebutkan di atas seringkali tidak cukup untuk membuat seorang ibu mau berhenti sepenuhnya dari merokok. Lalu bagaimana dong?

-   Jalan terbaik adalah belajar berhenti merokok sekarang juga! Bayangkan mengenai kesehatan bayi anda dan juga kesehatan diri anda sendiri. Kondisi yang sehat memungkinkan anda untuk memiliki energi yang maksimal dalam mendidik dan membesarkan buah hati tercinta.
-   Namun jika berhenti sepenuhnya belum dapat dilakukan, jangan berhenti menyusui. Bayi Anda berhak mendapatkan ASI, karena ASI adalah cairan emas yang mereka butuhkan untuk tumbuh kembang mereka. Bayi yang tidak mendapatkan ASI dan diberi asupan formula melalui botol dot memiliki risiko terkena penyakit di saluran pernapasan dibanding bayi ASI. Apalagi, jika bayi yang tidak mendapat ASI tadi berada di lingkungan penuh asap rokok juga, akan semakin tinggi tingat resikonya.
-   Semakin sedikit jumlah rokok yang dihisap maka semakin sedikit risiko yang timbul. Sadari bahwa jika Anda merokok lebih dari 20 batang sehari maka risiko bagi bayi semakin tinggi.
-   Jangan pernah merokok di ruangan yang sama dengan bayi apalagi menyusui sambil merokok.
   Beri jarak minimal 1,5 jam antara merokok dan menyusui karena penelitian menyebutkan bahwa itu waktu yang dibutuhkan untuk tubuh mengeliminasi nikotin yang masuk.
-   Penggunaan nicotine patch ataupun permen karet nikotin sebagai pengganti merokok juga tetap memberikan pengaruh sama seperti merokok, tergantung dari kadar nikotin yang masuk ke tubuh.

Sebagai orang tua sudah pasti ingin memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Semoga tulisan singkat mengenai ibu menyusui dan merokok ini mampu menambah wawasan kita. Sehingga apa pun pilihan yang diambil, sudah berdasarkan informasi yang cukup dan sudah dipikirkan matang-matang. Life is a choice and as a parent you are the decision maker – your baby depends on you!

Ditulis oleh : Kiki Setiawan Konselor Laktasi AIMI

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+