Kompas.com - 31/07/2013, 14:25 WIB
|
EditorAsep Candra


KOMPAS.com — Diet makrobiotik mungkin masih asing di telinga Anda. Metode diet ini digunakan oleh penyanyi sekaligus aktris cantik Madonna untuk menjaga bentuk tubuhnya. Bahkan, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, dan aktris ternama Gwyneth Paltrow pun juga pernah mencoba diet makrobiotik ini. Lantas apa yang dimaksud diet makrobiotik ini?

Diet makrobiotik berawal dari filosofi Cina kuno yang mengajarkan keseimbangan "Yin" dan "Yang". Diet ini menitikberatkan pada keseimbangan jenis asupan makanan dengan mempertimbangkan faktor musim, iklim, aktivitas, jender, usia, untuk kesehatan, sekaligus untuk mencapai keselarasan jiwa dan raga.

Intinya adalah, pelaku diet makrobiotik percaya bahwa makanan yang dikonsumsi akan berdampak pada kesehatan dan kebahagiaan. Mereka juga merasa bahwa dengan memilih makanan yang bersifat alami (bukan makanan olahan) dapat meningkatkan kualitas hidup serta membantu menjaga atau menurunkan berat badan.

Dalam praktiknya, diet ini menganjurkan agar seseorang meningkatkan konsumsi makanan berserat, seperti padi-padian utuh, kacang-kacangan, polong-polongan, buah-buahan, biji-bijian, sayuran, dan ikan tertentu.

Daging merah, daging unggas, dan alkohol merupakan makanan dan minuman yang pantang dikonsumsi oleh pelaku diet makrobiotik sedangkan minuman yang paling dianjurkan dalam diet makrobiotik adalah air putih dan teh.

Diet ini dimaksudkan untuk menyeimbangkan asupan makanan yang berunsur Yin dan Yang. Makanan Yin diklasifikasikan sebagai makanan yang dianggap dingin, manis, dan pasif, sedangkan Yang adalah kebalikannya, yaitu makanan yang terkesan panas, asin, dan agresif.

Makanan "Yin" dan "Yang"

Sesuai dengan filosofinya, diet makrobiotik mengklasifikasikan makanan sesuai dengan karakter Yin dan Yang.

Kelompok padi-padian dianggap makanan dengan Yin dan Yang paling seimbang. Contohnya adalah beras putih, beras merah, gandum.

Dalam makanan sehari-hari, kelompok padian-padian ini jumlahnya harus 50 – 60 persen dari makanan lain. Pasta dan roti tanpa ragi masih diperbolehkan untuk dikonsumsi sesekali.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.