Kompas.com - 23/11/2013, 09:55 WIB
|
EditorWardah Fajri
KOMPAS.com — Banyak para pesohor tampil memukau dengan tubuh langsing, tetapi tak lama tubuhnya lebih berisi. Mereka kemudian berhasil mendapatkan kembali tubuh langsing dalam waktu yang relatif singkat. Para ahli menyebutnya dengan diet yoyo. Disebut demikian karena diet tersebut mirip dengan permainan yoyo, ditarik ulur, naik turun dalam periode singkat.

Menurut penelitian dr Claire Duvermoy, kardiolog dari University of Michigan (AS), berat badan yang turun naik secara fluktuatif bisa meningkatkan risiko penyakit. Ini karena diet yoyo dapat mengganggu metabolisme tubuh yang memengaruhi banyak sistem tubuh.

Diet yoyo memang bukan metode diet yang disarankan oleh para ahli. Inilah beberapa alasannya.

1. Meningkatkan risiko kanker endometrium
Dalam studi yang dipublikasi dalam European Journal of Cancer di tahun 2013, wanita yang kehilangan dan menimbun kembali berat badannya lebih dari satu kali, 50 persen lebih mungkin untuk mengembangkan kanker endometrium atau dinding rahim. Risiko tersebut khususnya sangat tinggi pada mereka yang pernah obesitas dan menurunkan berat badannya, kemudian naik lagi hingga 9 kg.

2. Meningkatkan risiko penyakit jantung
Duvermoy mengatakan, diet yoyo juga meningkatkan risiko penyakit jantung. Pasalnya, berat yang turun naik menurunkan kadar kolesterol baik (HDL) dan mengganggu aliran darah ke jantung sehingga dapat memicu terjadinya stroke atau serangan jantung.

3. Merusak metabolisme
Penelitian baru yang dipublikasi dalam International Journal of Obesity menemukan, wanita yang berat badannya naik turun secara fluktuatif dapat mengalami penurunan tingkat basal metabolisme tubuh, yaitu jumlah kalori yang dibakar saat tidak melakukan apa pun. Para peneliti juga menemukan, wanita yang menimbun berat badannya kembali cenderung memiliki bentuk tubuh yang tidak proporsional, terutama pada lengan dan kakinya.

4. Membuat cepat lapar
Pelaku diet yoyo cenderung memiliki kadar ghrelin atau hormon nafsu makan yang tinggi dalam tubuhnya. Itulah yang ditemukan oleh sebuah studi asal University of Washington. Ini karena menekan nafsu makan untuk menurunkan berat badan secara kontinu akan merangsang tubuh untuk lebih lapar.

Agar terhindari dari efek diet yoyo, disarankan tidak melakukan diet tersebut secara berlebihan. Diet ketat tak hanya merugikan kesehatan, tetapi juga susah untuk dipertahankan. Menurut WHO, penurunan berat badan yang dinyatakan aman adalah 1 kg-1,5 kg per minggu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.