Kompas.com - 05/12/2013, 09:19 WIB
Ilustrasi pasien ShutterstockIlustrasi pasien
|
EditorAsep Candra

KOMPAS.com-Perawatan pasien transplantasi hati tidaklah berlangsung dalam waktu singkat. Perawatan bahkan harus dilakukan seumur hidup untuk mencegah reaksi penolakan dalam tubuh resipien terhadap hadirnya organ baru.
 
Perawatan menjadi kunci sukses bagi pasien usai dilakukannya operasi transplantasi hati, baik dengan donor hidup atau mati. "Dalam transplantasi hati 50 persen keberhasilan memang ditentukan operasinya. Namun sisanya dipegang proses perawatan. Kami bahkan melatih khusus tenaga perawat yang menangani pasien operasi transplantasi hati," kata dr. Jayaraj Prema Raj anggota Sing-Kobe Liver Transplantation Centre (SKLTC)  Singapora, Senin (02/12/2013) di Jakarta.
 
Para perawat, kata Raj, menghabiskan waktu pendidikan sekitar 2 tahun. Para perawat diajari cara penanganan pasien transplantasi hati yang rawan mengalami komplikasi jantung, ginjal, atau pankreas. Sebelumnya, hanya perawat high qualified yang menjalani proses pendidikan ini. Salah satunya perawat tersebut pernah bertugas di unit gawat darurat atau Intensive Care Unit (ICU).
 
Perawatan pascatransplantasi masih berlanjut saat pasien keluar dari rumah sakit. Para pasien terus menjalani supervisi dari dokter yang menangani. Para pasien juga wajib melaporkan kondisinya pada dokter yang menangani.
 
"Sangat penting untuk mengedukasi pasien tentang kondisi dirinya. Pasien harus tahu apa yang sebaiknya dihindari dan alasannya. Pada akhirnya mereka harus mampu menjaga kesehatan dirinya, dengan dibantu orang sekitarnya," kata Raj.
 
Edukasi diperlukan karena operasi transplantasi hati berbeda dengan operasi lain, semisal usus buntu. Pada kasus-kasus tersebut, pasien hanya perlu mengkonsumsi antibiotik dan istirahat cukup. Keduanya berfungsi untuk mengembalikan daya tahan tubuh sehingga mampu menekan kemungkinan infeksi.
 
Sementara, perawatan untuk operasi transplantasi hati berlangsung seumur hidup. Hal ini dikarenakan reaksi penolakan bisa berlangsung sewaktu-waktu yang berisiko menyebabkan komplikasi jantung, ginjal, dan pankreas. Komplikasi yang biasanya ditandai demam ini, berisiko mengancam nyawa pasien.
 
Raj mengatakan, upaya perawatan tahap pertama adalah konsumsi 3 macam obat selama 6 bulan pertama usai transplantasi. Obat, yang berfungsi sebagai penekan daya tahan tubuh ini, dikonsumsi hingga melewati 6 bulan pertama dengan jumlah obat menjadi satu macam.
 
Obat ini harus dikonsumsi seumur hidup untuk menekan daya tahan tubuh, sehingga bisa menerima keberadaan organ lain yang terus tumbuh dalam tubuhnya. Perawatan juga meliputi pola makan, olahraga, dan istirahat.
 
"Sangat disarankan untuk tidak mengkonsumsi buah seperti anggur atau durian. Perawatan 6 bulan pertama sangat penting sebagai masa adaptasi tubuh, terhadap adanya organ baru. Untuk mengoptimalkan perawatan, kami menyarankan pasien istirahat 1-2 bulan bagi pasien yang terbiasa beraktivitas ringan. Sementara untuk pasien yang beraktivitas berat harus istirahat 3-4 bulan," kata Raj.
 
Hal sama juga dilakukan pasien transplantasi hati anak, yang harus minum obat immunosupresan jenis Sirac seumur hidupnya. Selama dan sesudah perawatan, para dokter akan terus mengecek kondisi pasien. Namun pasien juga harus menjaga tubuhnya semaksimal mungkin, sesuai edukasi yang diterima.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X