WHO: Pria Gay Disarankan Minum Obat HIV

Kompas.com - 15/07/2014, 10:54 WIB
Ilustrasi pasangan gay. ShutterstockIlustrasi pasangan gay.
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com -
Tingkat penularan HIV/AIDS pada kelompok pria homoseksual, pekerja seks komersil, dan narapidana, termasuk tinggi sehingga menjadi ancaman dalam perjuangan melawan AIDS.

Oleh sebab itu, organisasi kesehatan dunia (WHO) sangat merekomendasikan pria gay untuk mengonsumsi obat antiretroviral sebagai usaha melindungi diri sendiri dari infeksi HIV, selain menggunakan kondom.

Upaya pencegahan tersebut, dikenal sebagai perlindungan dari penyakit sebelum terpapar (PrEP), ditujukan untuk mereka yang masuk dalam kelompok beresiko tinggi dengan mengonsumsi satu pil ARV. Pada orang yang sudah terinfeksi, mereka harus minum 2 pil ARV setiap hari.

"Secara global kita mengalami kesulitan pada populasi yang beresiko tinggi namun di banyak negara mereka memiliki akses yang rendah pada layanan kesehatan," kata Gotfried Hirnschall, direktur departemen WHO.

Populasi yang dimaksud adalah pria yang berhubungan seks dengan pria, pekerja seks, orang transgender, terutama transgender wanita (berganti kelamin), orang yang menggunakan narkoba jarum suntik, dan para tahanan.

Pakar AIDS memperkirakan, secara global insiden penularan HIV pada pria gay bisa ditekan 20-25 persen melalui upaya PrEP dalam 10 tahun. Jika dilakukan secara konsisten, PrEP juga bisa menurunkan risiko penularan HIV hingga 92 persen pada orang yang beresiko tinggi.

"Alasan kami menyarankan perlindungan tambahan pada pria gay adalah karena kami sangat khawatir dengan peningkatan insiden HIV pada kelompok ini," kata Rachel Baggaley, koordinator departemen HIV/AIDS di WHO.

Penelitian WHO memperkirakan, pekerja seks wanita beresiko 14 kali tertular HIV dibanding wanita pada umumnya, pria gay beresiko 19 kali tertular dibanding populasi umum, dan wanita transgender beresiko 50 kali dibanding orang dewasa lainnya. Sementara itu, risiko orang yang memakai narkoba jarum suntik 50 kali lebih tinggi dibanding populasi umum.

"Kami melihat ledakan epidemi pada populasi kelompok kunci ini," kata Gottried. Ia menambahkan, 50 persen dari kasus infeksi HIV baru terdapat di kelompok ini.

Di seluruh dunia, terdapat 35,3 juta orang yang terinfeksi HIV, tetapi peningkatan jumlah pasien ini terjadi karena kemajuan tes HIV. Kombinasi obat yang semakin baik juga membuat orang yang terinfeksi bisa hidup lebih lama.

Orang yang masuk dalam kelompok beresiko ini sangat beresiko tinggi menularkan HIV. "Pekerja seks komersil dan pelanggannya memiliki istri atau pasangan. Sebagian besar orang yang memakai narkoba jarum suntik juga punya anak. Jika mereka tidak mendapat layanan kesehatan, risiko penularannya sangat tinggi," katanya.


Sumber Dailymail
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X