Kompas.com - 06/04/2015, 09:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

Namun, RDT dan PCR untuk flu masih terbatas di Indonesia mengingat penyakit itu belum menjadi masalah tahunan. Kondisi tersebut membuat obat anti virus flu di Indonesia terbatas karena amat jarang dibutuhkan.

Jenis virus

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio memaparkan, ada tiga jenis virus influenza, yakni A, B dan C. Virus influenza A dan B pada manusia menyebabkan epidemi penyakit musiman hampir tiap musim dingin di negara dengan empat musim. Adapun infeksi influenza tipe C hanya menimbulkan gangguan pernapasan ringan dan dianggap tak menimbulkan epidemi.

Virus influenza A dibagi subtipe berdasarkan protein di permukaan virus. Saat ini, yang ditemukan pada manusia ialah influenza A (H1N1) dan A (H3N2). Virus influenza B tak terbagi dalam subtipe, tetapi yang beredar di manusia termasuk salah satu dari dua turunan, yakni B/Yamagata dan B/Victoria.

Flu musiman akibat virus-virus itu ditandai demam tinggi tiba-tiba, batuk kering, sakit kepala dan sendi, lemas, radang tenggorokan, dan pilek. "Batuknya bisa berat dan berlangsung hingga dua minggu," kata Amin.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), secara global influenza diperkirakan menyerang 5-10 persen populasi orang dewasa dan 20-30 persen populasi anak. Epidemi penyakit itu tiap tahun menyebabkan 3 juta-5 juta kasus sakit parah dan 250.000 orang hingga 500.000 orang meninggal.

Risiko komplikasi

Di luar masalah penggunaan istilah flu yang kerap tertukar dengan selesma, hal terpenting adalah tak menyepelekan penyakit seberapa pun ringannya. Dalam hal ini, langkah Meriska segera memeriksakan diri ke dokter dinilai tepat. Itu karena, sebagai perempuan hamil, ia termasuk berisiko tinggi mengalami penyulit (komplikasi) jika memang terinfeksi virus flu.

Selain ibu hamil, menurut Amin, mereka yang berisiko tinggi ialah anak-anak berusia di bawah dua tahun, orang berusia di atas 65 tahun, dan mereka yang menderita penyakit seperti jantung, paru-paru, ginjal, hati, darah, ataupun gangguan metabolisme kronis seperti diabetes dan yang mengalami penurunan daya tahan tubuh.

Adityo menambahkan, komplikasi terberat terjadi jika infeksi mencapai paru-paru. Hal-hal yang bisa terjadi antara lain perdarahan paru-paru, gagal napas akut (acute respiratory distress syndrome/ARDS), hingga kematian.

Jika sudah parah, pasien mendapat perawatan penunjang. Selain ditempatkan di unit perawatan intensif (ICU), pasien mendapat obat penunjang di luar anti virus flu, termasuk antibiotik guna mencegah infeksi sekunder oleh bakteri.

Virus flu amat mudah menular, termasuk dari cipratan cairan penderita, misalnya saat mengobrol. Umumnya, orang dewasa yang terinfeksi bisa menulari orang lain sejak satu hari sebelum gejala dialami hingga 5-7 hari setelah sakit. Gejalanya mulai terjadi 1-4 hari setelah virus masuk tubuh.

Untuk mencegah penularan, ada vaksin tiga jenis virus utama flu yang formulanya berganti tiap tahun untuk menghindari risiko virus kebal pada vaksin. Cara lain yang utama adalah menjaga daya tahan tubuh lewat perilaku hidup sehat, termasuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan cukup istirahat.

(J GALUH BIMANTARA)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.