Kompas.com - 08/04/2015, 09:00 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Pasien kanker yang menjalani kemoterapi harus berhati-hati dengan suplemen yang diasup. Berkonsultasi dengan dokter sangat ditekankan bagi pasien yang melakukan kemoterapi saat akan mengonsumsi suplemen. Termasuk bila ingin mengasup suplemen minyak ikan. 

Untuk suplemen minyak ikan, malah disebutkan para ahli agar dihindari. Suplemen minyak ikan kerap digunakan untuk kondisi yang berkaitan dengan kesehatan jantung maupun darah.

Disebutkan National Institutes of Health, ada yang mengonsumsi minyak ikan untuk membantu menurunkan kadar trigliserida serta mencegah penurunan berat badan yang disebabkan oleh obat-obatan kanker. 

Namun nyatanya, pasien kanker yang menjalani kemoterapi, malah tidak disarankan mengonsumsi suplemen minyak ikan. Karena menurut para periset, suplemen tersebut kurang efektif pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi.

Riset pun dilakukan terhadap suplemen minyak ikan. Hasilnya, keenam suplemen minyak ikan yang diuji para periset mengandung asam lemak spesifik yang dijumpai mengurangi keefektifan kemoterapi pada tikus. Demikian hasil studi yang dilaporkan dalam JAMA Oncology. 
 
"Mereka yang mendapat kemoterapi sebaiknya menjauhkan diri dari suplemen minyak ikan dan mendiskusikan setiap suplemen yang akan dikonsumsi dengan dokter yang merawatnya,” ujar Dr. Emile Voest, pimpinan penelitian dari Netherlands Cancer Institute, Amsterdam. Ia sendiri pun selalu mendiskusikan hal tersebut dengan pasiennya. Dr. Voest selalu meminta pasiennya untuk terbuka kepada dirinya dan melaporkan apa saja yang dikonsumsi. 

Menurut Dr. Voest beserta koleganya, asam lemak omega 3 dikonsumsi oleh seperlima orang Amerika dengan kanker, biasanya melalui minyak ikan. Minyak ikan kerap dijual dalam bentuk kapsul. 

 
Sebelumnya, para periset menjumpai bahwa jumlah kecil dari dua asam lemak menurunkan keefektifan dari kemoterapi pada tikus dengan kanker. "Asam lemak ini pada akhirnya memungkinkan sel kanker untuk memperbaiki dirinya lebih cepat setelah kemoterapi,” terang Dr. Voest. 
 
Ketika timnya mencari dua asam lemak dalam enam suplemen minyak ikan, satu tidak terdeteksi tetapi asam lemak yang disebut 16:4 (n-3) ada dimana-mana. 
 
Para periset juga mensurvei 400 orang yang mendapatkan pengobatan kanker di November 2011. Dari 118 yang mengembalikan survey, 35 persen melaporkan menggunakan suplemen gizi dan 11 persen menyebutkan menggunakan suplemen asam lemak omega 3. 
 
Di bagian lain dari penelitian ini, para periset kemudian memiliki 30 sukarelawan tanpa kanker yang mengonsumsi 10 atau 50 mililiter tiga suplemen minyak ikan. Kadar dari 16:4 (n-3) di dalam darah mencapai puncak sekitar 4 jam setelah mengonsumsi 10 mL suplemen dan kadarnya kembali ke normal setelah 8 jam. Kadar asam lemak tetap meningkat lebih lama di antara mereka yang mengonsumsi 50 mL. 
 
Lebih lanjut, ketika 20 sukarelawan mengonsumsi mackerel (ikan kembung) atau herring, kadar 16:4 (n-3) dalam darahnya naik. Konsumsi salmon atau tuna memiliki sedikit atau tidak ada efek sama sekali. 
 
Para periset menyimpulkan bahwa hingga diketahui lebih lanjut, mereka dengan kemoterapi sebaiknya menghindari minyak ikan, serta mackerel dan herring, sehari sebelum dan setelah perawatan. 
 
Dutch Cancer Society dan Dutch National Working Group for Oncologic Dieticians merekomendasikan bahwa mereka yang mendapatkan kemoterapi menghindari minyak ikan di saat pengobatan. 
 
“Ini merupakan pengamatan menarik, yang memerlukan investigasi lebih lanjut,” terang Dr. Powel Brown, kepala Department of Clinical Cancer Prevention, University of Texas MD Anderson Cancer Center, Houston. 
 
“Secara umum, saat diberikan kemoterapi, kami mencoba menghalangi penggunaan suplemen tambahan. Sudah diketahui bahwa beberapa suplemen mempengaruhi metabolisme kemoterapi,” tambah Dr. Brown. 
 
Ditambahkan Dr. Voest, kesimpulan studi ini sedikit terperinci tetapi akan sangat sulit untuk melakukan percobaan guna menegaskan temuan ini. Misalnya saja, akan sangat tidak etis untuk secara acak memberikan pasien minyak ikan selama kemoterapi untuk melihat bila hal ini membuat pengobatannya kurang efektif. 
 
"Orang sebaiknya berhati-hati akan menghindari semua asam lemak omega 3 karena ini merupakan bagian esensial dari diet yang tubuh tidak dapat membuatnya sendiri," tambah Stacy Kennedy, ahli nutrisi onkologi di Dana-Farber Cancer Institute, Boston. 
 
Flaxseed, biji chia, dan kenari juga merupakan sumber asam lemak omega 3. "Saya rasa, penting untuk melakukan percakapan secara detail dengan dokter dan dietisi untuk menimbang risiko dan manfaat dari setiap obat-obatan bebas, suplemen dan bubuk," tegas Kennedy. 
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.