Kompas.com - 21/04/2015, 09:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com -
Bagi Kevin Shafer, kehidupannya di tahun 2008 baik-baik saja. Pria berusia 27 tahun ini memiliki karier dalam bidang akademik, menikah, dan menanti anak pertamanya. Ia memiliki sejarah depresi, tetapi dapat dikendalikan. "Aku sedang dalam kondisi yang baik-baik saja," katanya.

Kemudian, istrinya melahirkan seorang anak laki-laki. "Aku melihatnya di ruangan rumah sakit, dan aku panik," cerita Shafer yang merupakan asisten profesor pekerjaan sosial di Brigham Young University, Utah, Amerika Serikat.

"Tiba-tiba aku merasakan banyak sekali tekanan untuk menjadi lebih baik lagi dalam pekerjaan, berperan menjadi ayah, dan menjadi suami yang baik. Semua hal itu benar-benar membuatku kewalahan di saat yang sama," lanjutnya.

Bukannya merasa bahagia dengan kelahiran putranya, Shafer justru lebih banyak berdiam diri, bahkan merasa sangat takut untuk menggendong dan takut untuk melakukan apa pun. "Seperti lumpuh," katanya.

Penelitian menunjukkan bahwa 5 dari 10 ayah baru mengalami depresi, dibandingkan sekitar 15 persen dari ibu baru. Penelitian lainnya yang dipublikasikan dalam Pediatrics menjabarkan, gejala depresi ayah baru meningkat rata-rata 68 persen selama lima tahun pertama kehidupan anak mereka.

"Dulu kita mengira depresi pascakelahiran merupakan proses biologis dan hormonal yang hanya mempengaruhi wanita. Ternyata, bukan hanya wanita saja. Ada faktor biologis, psikologis, dan sosial,"  ujar David Diamond,direktur Center for Reproductive Psychology di San Diego, AS.

Menderita diam-diam
Pria dengan riwayat kondisi mental memiliki risiko lebih tinggi depresi setelah menjadi ayah.
"Bagi beberapa ayah baru, kurang tidur, kurang kontrol, serta kurangnya rutinitas cukup untuk membuat mereka menjadi depresi," papar Dr. Craig Garfield yang memimpin studi Pediatrics soal gejala depresi.

Orangtua yang memiliki peran ganda risikonya juga lebih besar mengalami depresi. Berdasarkan sebuah penelitian pada tahun 2013 dari 6.000 lebih keluarga, ayah tiri dengan anak baru dan anak biologis yang tidak tinggal satu atap memiliki risiko tertinggi.

"Mereka merasa seperti tertarik dalam arah yang berbeda karena tidak banyak orang di sekelilingnya yang menjadi ayah biologis yang tak punya tempat tinggal," ucap Shafer.

Ayah baru dapat pula rentan terhadap depresi karena kekurangan dukungan sosial yang biasanya lebih sering didapatkan para wanita.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Health
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.