Kompas.com - 26/05/2015, 19:18 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Kabar adanya beras plastik di Bekasi, Jawa Barat langsung dibantah pemerintah. Dari hasil uji laboratorium yang dilakukan Laboratorium forensik Polri, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Pertanian, pemerintah menyimpulkan bahwa tidak ada unsur plastik dalam beras itu.

Lalu, mengapa hasil tes itu berbeda dengan hasil uji laboratorium Sucofindo sebelumnya yang mengkonfirmasi adanya unsur plastik di beras tersebut? Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menjelaskan, perbedaan terjadi karena adanya perbedaan interprestasi dari hasil analisis yang dikeluarkan.

Sucofindo menggunakan metode kualitatif. "Hasil tes Sucofindo juga tanpa dikonfirmasi dengan senyawa baku dari bahan plastik yang diduga terkandung dalam sampel analisis," ujar Badrodin di kantor Presiden, Selasa (26/5/2015).

Selain itu, Badrodin mengungkapkan kemungkinan kedua adalah adanya kontaminasi pada peralatan analisis, yang digunakan dalam proses analisis sampel itu. Atas perbedaan hasil uji ini, Badrodin mengaku masih akan mendiskusikannya dengan peneliti lain.

"Apakah itu memang berdasarkan pada analisis karena metodenya sama, sampelnya sama, kok hasilnya beda. Ini jadi pertanyaan bagi kami, nanti kami akan diskusikan dengan peneliti-peneliti yang ada," ucap dia.

Kepala BPOM Roy Sparingga menjelaskan, pihaknya menggunakan baku banding untuk memvalidasi proses penelitian. BPOM pun menggunakan uji kesetaraan substansi antara beras normal dengan sampel tersebut.

"Kalau mengandung bahan plastik atau yang dilaporkan di Sucofindo, kami juga uji logam berat. Salah satu indikasi ini berhubungan erat, hasil sudah jelas, tidak beda nyata antara beras sampel dengan beras standar," ucap Roy.

BPOM juga telah mencari data apakah kasus beras plastik ini pernah ditemukan di negara lain kepada badan di bawah WHO. Hasilnya pun negatif. Dengan demikian, BPOM menyimpulkan bahwa beras yang ditemukan di Bekasi bukanlah beras plastik karena tak mengandung syntetic polymer.

"Jadi jelas, bahwa masyarakat diimbau tenang. BPOM sudah instruksikan jajaran BPOM di daerah dan seluruh Indonesia untuk kerja sama lintas sektor untuk mengawal kasus ini dan siap untuk menguji jika diduga ada," ujar Roy.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.