Kompas.com - 23/07/2015, 19:57 WIB
|
EditorHeru Margianto

JAKARTA, KOMPAS.com - Paparan asap rokok dapat membahayakan kesehatan anak, baik kini dan masa mendatang. Diperparah lagi jika sudah mulai merokok sejak anak- anak.

Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan, perokok usia 10-14 tahun meningkat 2 kali lipat dalam 10 tahun, yakni 1,935 juta  pada 2001 menjadi 3,967 juta pada 2010.

Bahkan menurut Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2009, lebih dari  30 persen anak Indonesia merokok  sebelum usia 10 tahun. Sementara itu, 59,1 persen balita menjadi perokok pasif karena terpapar dari rumah sendiri maupun tempat umum.

Direktur Eksekutif Lentera Anak Indonesia Hery Chariansyah mengatakan, perlu ketegasan pemerintah dalam mengatur regulasi rokok guna melindungi anak Indonesia dari asap rokok.

Menurut Hery, jika masalah ini dibiarkan akan berdampak buruk pada bonus demografi Indonesia tahun 2020-2030. Pada tahun tersebut, penduduk produktif di Indonesia akan lebih banyak dari yang tidak produktif.

“Anak-anak Indonesia yang saat ini merokok dan terpapar asap rokok, pada 2020-2030 akan menjadi penduduk yang sakit-sakitan dan menjadi beban ekonomi, sehingga berpotensi mengancam bonus demografi,” ujar Hery dalam siaran pers yang diterima, Kamis (23/7/2015).

Berdasarkan Public Health Center, Harvard School tahun 2007, balita yang menjadi perokok pasif akan 5 kali lebih berisiko menderita pneumonia, 2,5 kali lebih berisiko meningitis, 1,5 kali lebih berisiko menderita infeksi telinga tengah,  2 kali lebih berisiko memiliki asma, dan 3 kali lebih berisiko terkena kanker paru-paru.

Lebih dari itu, sering terpapar asap rokok juga bisa berdampak buruk pada perkembangan otak anak, seperti gangguan belajar, masalah konsentrasi, dan gangguan perilaku.

Untuk itu, bertepatan dengan Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada hari ini, Presiden Joko Widodo pun didesak segera mengaksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Baca: Lindungi Anak dari Asap Rokok, Presiden Harus Ratifikasi FCTC.

“Aksesi FCTC selain bertujuan mencegah anak menjadi perokok pemula, juga sebagai upaya pemenuhan hak konstitusional anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal seperti dijamin UUD 1945 Pasal 28B ayat 2,” kata Hery.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.