Kompas.com - 14/09/2015, 08:00 WIB
EditorLusia Kus Anna
KOMPAS.com - Homofobia atau tidak bisa menoleransi kaum homoseksual yang ditunjukkan dalam sikap kebencian dan prasangka, mungkin terkait dengan adanya gangguan psikologis. Demikian menurut hasil penelitian yang dimuat dalam Journal of Sexual Medicine.

Para ahli menemukan bahwa ciri psikologis tertentu, bersama dengan gangguan mekanisme pertahanan, berpotensi menyebabkan perilaku homofobia.

Seringkali saat kita menghadapi seseorang dan bentuk hubungannya, respon psikologis kita terhadap orang tersebut bekerja dalam spektrum emosi negatif dan positif. Misalnya, kita berpikir untuk percaya atau tidak pada orang tersebut, atau kita merasa aman atau cemas, adalah cara kita menilai sebuah hubungan.

Bila emosi tersebut condong pada spektrum negatif dan menghasilkan kecemasan, kita cenderung mencampurkan elemen hubungan itu dengan mekanisme pertahanan untuk merasa lebih aman.

Dr.Emmanuele A. Jannini, presiden Italian Society of Andrology and Sexual Medicine, memakai teori tersebut untuk mengungkapkan mekanisme pertahanan dalam sikap homofobia. Bentuk diskriminasi pada kaum homoseksual ini juga terkait dengan gangguan psikologis tertentu.

Untuk menguji teori tersebut, ia melibatkan 560 responden mahasiswa Italia berusia 18-30 tahun. Status kesehatan mental para responden dievaluasi berdasarkan standar Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-5).

Para responden diberikan tiga pertanyaan, pertama untuk mengukur tingka homofobia, kedua untuk menggolongkan mekanisme pertahanan dan metode coping, dan ketiga untuk menguji gejala psikopatologinya.

Setelah mengevaluasi skor jawaban responden, para peneliti menemukan bahwa sikap homofobia lebih sering ditemukan pada pria. Mereka yang memiliki sikap ini juga memiliki mekanisme pertahanan yang belum matang, atau artinya memeliki gangguan dalam menghadapi situasi sosial tertentu.

Bukan hanya itu, ternyata ditemukan bahwa ciri psikologi yang ditemukan pada orang homofobia anara lain mereka jgua rentan mengalami psikotik. Dalam kasus yang ekstrem, kondisi itu adalah penanda kemungkinan gangguan jiwa seperti skizofrenia. Dalam bentuk sederhana, psikotik bisa mewujud dalam sikap kebencian dan kemarahan.

Di lain pihak, responden yang menunjukkan bentuk neurotik dari mekanisme pertahanan dan depresi, cenderung tak memiliki sikap homofobia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.