Kompas.com - 12/10/2015, 19:00 WIB
EditorLusia Kus Anna
KOMPAS.com — Suplemen antioksidan memang sangat populer. Namun, antioksidan terbaik tidak berada dalam pil atau tablet.

Antioksidan yang disebut-sebut sebagai tameng tubuh melawan polutan dan radikal bebas memang memiliki banyak manfaat dan menjaga tubuh tetap sehat.

Tetapi, jika Anda ingin memenuhi kebutuhan tubuh akan antioksidan, konsumsilah sayur dan buah-buahan. Ini karena tubuh kita sebenarnya hanya membutuhkan antioksidan dalam jumlah sedikit, sedangkan dalam suplemen biasanya konsentrasinya sangat tinggi.

Suplemen antioksidan pertama kali diperkenalkan oleh sekelompok ilmuwan pada tahun 1981 untuk melawan radikal bebas. Berbagai studi epidemiologi menunjukkan, orang yang sering makan buah dan sayuran lebih rendah risikonya terkena kanker kolon, penyakit jantung, dan kondisi lain.

Para ahli lalu berusaha menemukan kandungan "aktif" tersebut dan memasukkannya dalam pil. Zat aktif itu dikira betakaroten yang memberi warna oranye pada wortel, karena itu adalah antioksidan. Tetapi, pemanfaatannya tak sesederhana itu.

Terjadi proses yang konstan antara akseptor elektron (radikal) dan donor (antioksidan) agar bisa seimbang dengan baik dan biokimia yang sangat rumit pada bagaimana sel bisa bertahan dan tumbuh. Saat terdapat lebih banyak akseptor atau donor, sistem akan kehilangan keseimbangan dan terjadi kerusakan. Jadi antioksidan yang berlebihan belum tentu diperlukan.

Kemudian pada tahun 1980-an dilakukan penelitian di Seattle dengan melibatkan 18.000 pria dan wanita yang secara acak diberikan tablet berisi betakaroten atau tablet yang tidak memiliki bahan aktif (plasebo).

Para ahli berencana mengikuti para responden itu selama 10 tahun dan mengira kelompok yang mendapat betakaroten akan lebih rendah risiko kanker parunya. Tetapi, yang terjadi sebaliknya dan penelitian harus dihentikan lebih awal karena kelompok betakaroten justru mengalami peningkatan kanker paru. Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian di Finlandia.

Jumlah betakaroten dalam tablet tersebut jauh lebih tinggi dibanding yang ada dalam tubuh secara alami. Para ahli tadinya mengira bahwa jika kadar sedikit saja sudah baik, apalagi kalau banyak. Tetapi, nyatanya mereka salah.

Pada tahun 2007 dilakukan analisis dari 68 penelitian acak suplemen antioksidan yang menunjukkan peningkatan risiko kematian 5 persen pada kelompok yang mengonsumsi suplemen.

Studi-studi terbaru terus dilakukan. Salah satunya yang melibatkan 15.000 dokter pria yang secara acak diberikan 4 jenis pil pada tahun 1997. Satu berisi plasebo dan yang lainnya adalah vitamin E, vitamin C, atau multivitamin yang mengandung beberapa antioksidan seperti vitamin E dosis rendah.

Pada tahun 2011, sekitar 2.700 dari 15.000 pasien didiagnosis kanker. Pil mengandung vitamin C dan E sepertinya tidak berpengaruh pada risiko kanker, tetapi pemberian multivitamin menurunkan risiko kematian sampai 8 persen.

Bagaimanapun, sumber-sumber alami tetap yang terbaik. Namun, jika Anda ingin mengonsumsi suplemen, minumlah multivitamin dalam dosis rendah.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.