Kompas.com - 17/11/2015, 16:01 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Para peneliti dari College of Agriculture and Environmental Sciences di University of Georgia menemukan, bahwa pisau dapur dapat menjadi sarang kuman dan sumber pertukaran kuman antar bahan makanan.

Untuk bahan makanan yang sifatnya dimasak, kuman bisa saja mati selama proses pemanasan. Namun, bila Anda memutuskan untuk memotong bahan yang akan dimakan segar seperti salad atau buah-buahan, peneliti sangat merekomendasikan Anda untuk mencuci peralatan, seperti pisau, pengupas, dan parut, sebanyak dua kali, yaitu sebelum digunakan serta setelah digunakan.

Bahkan, studi yang diterbitkan dalam jurnal Food Microbiolog tersebut menyarakan Anda untuk memiliki peralatan dapur tepisah, antara bahan makanan mentah seperti ikan atau daging dengan bahan makanan yang siap makan.

Bukan tanpa alasan, pisau tak hanya bisa menjadi media pertukaran kuman, pada tahun 2014, tim peneliti dari Swiss telah menguji peralatan masak umum seperti pisau serta talenan. Hasilnya, sekitar 3,5 persen dari talenan terbukti membawa E. Coli, dan 6,5 persen terkontaminasi dengan bakteri yang resistan terhadap obat.

Tidak seperti kebanyakan bakteri penyebab penyakit lain, E. coli dapat menyebabkan infeksi walau Anda hanya mengonsumsi sedikit.


Daging sapi, susu yang tidak dipasteurisasi, dan produk segar membuat Anda berisiko menelan bakteri yang menyebabkan diare, kram perut yang parah, muntah, dan demam. Sayuran tertentu, seperti bayam dan selada sangat rentan terhadap kontaminasi.

Salmonella merupakan bakteri umum lain yang dapat ditransfer melalui peralatan dapur. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, lebih dari satu juta orang Amerika jatuh sakit akibat infeksi Salmonella setiap tahun, 380 di antaranya berakibat fatal.


Bakteri yang resisten terhadap obat bisanya menyebabkan diare, demam, dan kram perut dalam waktu 12 sampai 72 jam dan berlangsung hingga seminggu.

"Mengetahui bahwa peralatan dapur dapat menyebabkan kontaminasi silang adalah hal penting," kata penulis utama studi tersebut Marilyn Erickson, profesor di departemen ilmu dan teknologi pangan University of Georgia. "Dengan pengetahuan ini, konsumen diharapkan akan selalu memastikan bahwa peralatan dapur yang akan digunakan bersih."

Contoh kecilnya, jika terdapat satu tomat kotor di antara bahan makanan lain, tomat tersebut dapat mengontaminasi dan merusak seluruh bahan makanan. "Tomat memiliki kemampuan kontaminasi lebih tinggi ketimbang saat kita memotong stroberi," kata Erikson.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.