Kompas.com - 04/12/2015, 13:40 WIB
|
EditorLusia Kus Anna
JAKARTA, KOMPAS.com - Kita hidup dalam dunia yang perkembangan teknologinya berjalan sangat pesat. Kemajuan itu dapat kita manfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kualitas kesehatan.

Inovasi teranyar, misalnya dalam alat diagnostik penyakit yang lebih akurat, obat-obatan, atau alat untuk memonitor kondisi tubuh, tentu berpengaruh besar dalam mencegah penyakit, menurunkan angka kesakitan dan kematian.

Memanfaatkan perangkat telepon pintar, aplikasi dan juga komputasi awan, Philips memperkenalkan layanan perawatan kesehatan yang terpadu.

"Kami ingin berkontribusi dalam kesinambungan hidup sehat manusia. Semua dimulai dari upaya pencegahan, sistem deteksi penyakit, lalu jika seseorang sakit akan dirawat di rumah sakit, dan kembali lagi ke rumah di mana proses hidup sehat di mulai lagi," kata Suryo Suwignjo, Presiden Direktur Philips Indonesia dalam acara Philips Inovation Experience Jakarta 2015 (3/12/15).

Suryo menjelaskan, lingkaran yang berkesinambungan dalam perawatan kesehatan itu diwujudkan dalam berbagai inovasi.

"Kami menawarkan solusi dari perseorangan sampai ke solusi yang membawa dampak pada masyarakat banyak," katanya.

Untuk kesehatan perseorangan misalnya, ada beberapa inovasi yang diperkenalkan, sebut saja alat pemurni udara pintar (air purifier), alat pereda sakit non-obat, hingga aplikasi klinis berbasis komputasi awan untuk membantu tenaga kesehatan memantau dan menjaga pasien penyakit kronis yang dirawat di rumah.

Hampir semua alat tersebut bisa dikendalikan melalui aplikasi di ponsel pintar dari mana pun kita berada. Pengguna juga bisa mendapatkan data penggunaan alat atau perkembangan skala nyeri (untuk alat pereda nyeri) secara periodik.

"Dengan semua peralatan ini pada tahun 2020 setiap orang nantinya bisa menjaga kesehatannya secara mandiri," kata Erik Van Houten, Marketing Director Personal Health Philips Indonesia.

Sementara itu, untuk alat-alat kesehatan di pusat layanan kesehatan, diperkenalkan alat diagnostik kanker terbaru dengan digitalisasi gambar yang biasanya hanya bisa diamati oleh para ahli patologi melalui mikroskop.

Gambar patologi yang dibagikan secara elektronik antar sesama dokter ahli itu diyakini dapat mempercepat proses konsultasi dan permintaan opini kedua dalam diagnosis kanker.

Kanker prostat menjadi fokus lain dari inovasi Philips yang ditampilkan, yakni ProstAid, sebuah prototipe aplikasi berbasis web yang dirancang untuk memberi pemahaman sehingga pasien dapat memilih metode pengobatan yang paling sesuai.

Dengan alat tersebut, data-data pasien, baik itu pemeriksaan fisik, laboratorium atau pun radiologi, yang sering tersebar di berbagai departemen di rumah sakit, dapat dikumpulkan. Dengan demikian pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pasien bersama dokter dalam merancang terapi, bisa lebih mudah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.