Kompas.com - 18/05/2016, 21:19 WIB
Ilustrasi. shutterstockIlustrasi.
|
EditorBestari Kumala Dewi

JAKARTA, KOMPAS.com - Baik pria maupun wanita berisiko terkena hipertensi. Namun, pada wanita terdapat tambahan faktor risiko hipertensi, yaitu saat hamil dan menopause.

Pakar hipertensi dr. Arieska Ann Soenarta, SpJP (K), FIHA, mengungkapkan, saat hamil bisa terjadi hipertensi kronik dan hipertensi gestasional, yaitu tekanan darah di atas 140/90 mmHg.

Pada hipertensi kronik, umumnya terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu atau menetap lebih dari 12 minggu setelah melahirkan.

"Pada ibu hamil tidak boleh kasih obat antihipertensi sembarangan. Jika terjadi penurunan tekanan darah yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan perfusi plasenta yang memperburuk prognosis perinatal," terang Ann dalam diskusi di Jakarta, Rabu (18/5/2016).

Sementara itu, hipertensi gestasional bisa terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu. Penyebabnya hingga kini belum diketahui dengan pasti.

Ann mengungkapkan, sekitar 50 persen pasien hipertensi gestasional bisa berkembang menjadi pre-eklampsia pada usia kehamilan 24-35 minggu. Pre-eklampsia bisa menyebabkan bayi lahir prematur.

Ann mengatakan, prevalensi ibu hamil dengan hipertensi mencapai 2,1 persen. Di dunia, prevalensi hipertensi pada kehamilan sekitar 12-18 persen dan mengakibatkan kematian perinatal 20-25 persen.

Bagaimana dengan faktor risiko hipertensi saat menopause? Ann menjelaskan, menopause menyebabkan wanita mengalami penurunan produksi estrogen. Hal ini mengakibatkan kekakuan dinding arteri hingga akhirnya menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik.

"Jadi wanita itu memiliki risiko yang unik dan khusus dalam hubungannya dengan hipertensi," kata Ann.

Ann mengingatkan para wanita untuk rutin mengontrol tekanan darahnya dan menjaga pola makan sehat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Health
Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Health
Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Health
10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

Health
Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Health
Sindrom Steven-Johnson

Sindrom Steven-Johnson

Penyakit
Kenali 4 Faktor Risiko Leukimia

Kenali 4 Faktor Risiko Leukimia

Health
Apa Manfaat dan Efek Samping Suntik Vitamin C?

Apa Manfaat dan Efek Samping Suntik Vitamin C?

Health
Bagaimana Cara Hadapi Orang Bertendensi Bunuh Diri?

Bagaimana Cara Hadapi Orang Bertendensi Bunuh Diri?

Health
Apa Penyebab Kulit Kering?

Apa Penyebab Kulit Kering?

Health
4 Cara Mudah Mengatasi Sembelit

4 Cara Mudah Mengatasi Sembelit

Health
8 Cara Mengatasi Sakit Kepala saat Kepanasan

8 Cara Mengatasi Sakit Kepala saat Kepanasan

Health
Sindrom Asperger

Sindrom Asperger

Penyakit
Seberapa Sering Normalnya Kita Harus Buang Air Besar?

Seberapa Sering Normalnya Kita Harus Buang Air Besar?

Health
Gagal Ginjal

Gagal Ginjal

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.