Kompas.com - 08/06/2016, 20:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Banyak orangtua yang kaget mendapati anak-anak mereka sudah mengetahui materi pornografi dari internet. Padahal, tak sedikit anak yang terpapar pornografi dari koleksi milik orangtuanya.

Menurut Ryan Syakur dari bagian advokasi dan humas Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Pusat, sumber pertama pornografi bagi anak adalah milik orangtuanya. Bentuknya bisa berupa film, majalah, tulisan, hingga gambar.

"Dari siswa-siswa SMA yang diteliti, mereka semua menyebut orangtua tidak cermat dalam menyimpan materi pornografi," kata Ryan yang pernah meneliti akses anak terhadap pornografi, seperti dikutip harian Kompas (8/6/2016).

Materi pornografi lalu disebar dengan mudah di media sosial sehingga akses anak terhadapnya dilakukan di antara sesama pengguna medsos atau tidak lagi melalui situs dewasa.

Psikolog seksual Baby Jim Aditya mengatakan, paparan pornografi terhadap anak-anak tidak hanya berlangsung lewat internet, tetapi juga lewat kehidupan nyata sehari-hari.

Bahkan, anak-anak mengenal pornografi pertama-tama justru dari tontonan, bacaan, hingga candaan orang dewasa.

"Anak-anak tidak serta-merta bisa mengakses materi pornografi secara daring (dalam jaringan). Keinginan itu timbul akibat timbunan memori yang didapat sedari kecil," ucap psikolog seksual Baby Jim Aditya ketika ditemui di Jakarta, Selasa (7/6). Materi ini dipapar tanpa sadar oleh orangtua kepada anak.

Baby menjelaskan, ketika bercanda di media sosial dengan sesama orang dewasa, orangtua sering saling mengirim meme, foto, atau video yang bersifat pornografi.

Menurut dia, berdasarkan pengakuan klien anak-anak yang ditanganinya, mereka berada di sebelah orangtua saat foto atau meme itu muncul di gawai.

Anak-anak juga terpapar pornografi ketika secara tak sengaja melihat gambar-gambar yang tersimpan di gawai milik orangtua. Hal ini terjadi karena orangtua tidak menghapus materi pornografi di gawai. "Anak tidak segera bereaksi. Namun, materi tersebut terpendam di dalam ingatan selamanya," ucap Baby.

Menurut dia, seiring berjalannya waktu, anak berkembang secara fisik dan mental. Mereka pun semakin terpapar dengan berbagai hal yang bersifat seksis. Situasi ini bisa memicu anak- anak untuk menggali ingatan pada materi pornografi di benak mereka.

"Ketika keinginan itu muncul, ia mencari konten pornografi. Hal pertama yang ia coba ialah gawai di sekitarnya," ujar Baby.

 

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Juni 2016, di halaman 11 dengan judul "Materi Tersebar di Lingkungan".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.