Memahami Manfaat dan Efek Samping Vaksin Polio

Kompas.com - 24/10/2020, 18:00 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19. (DOK. KOMINFO) Ilustrasi vaksin Covid-19. (DOK. KOMINFO)

KOMPAS.com - Polio adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus polio, yang termasuk dalam genus Enterovirus C dan famili Picornaviridae.

Penyakit ini tergolong berbahaya karena bisa menyebabkan kelumpuhan hingga kematian.

Tak hanya itu, polio tergolong penyakit yang mudah menular dan bisa menyerang siapa saja, khususnya anak-anak.

Virus penyebab polio telah menyebar di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.

Bahkan, tahun 1988 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencanangkan dunia bebas polio pada tahun 2000.

Akan tetap, hingga saat ini polio masih menghantui beberapa negara.

Baca juga: Penting untuk Memberantas Polio, Ini Beda Vaksin Polio IPV dan OPV

Mengenal vaksin polio

Hingga saat ini belum ada obat untuk mengatasi polio. Kabar baiknya, adanya vaksin telah membantu mencegah penyebaran penyakit ini.

Vaksin polio diperkenalkan pertama kali pada tahun 1955. Ada dua jenis vaksin yang hingga saat ini diguankan untuk memberantas polio, yakni vaksin polio oral (OPV) dan vaksin polio inaktif (IPV).

OPV merupakan vaksin yang terbuat dari virus polio yang dilemahkan. Jenis vaksin ini diberikan secara oral.

Sedangkan IPV terbuat dari virus polio yang dimatikan dan diberikan melalui suntikan.

Efek samping

Sama seperti obat untuk memberantas penyakit, vaksin polio juga memiliki efek samping.

Efek samping yang ditimbulkan bisa bersifat ringan atau serius. Menghimpun data Healthline, berikut efek samping ringan vaksin polio:

  • nyeri di dekat tempat suntikan
  • kemerahan di dekat tempat suntikan
  • demam ringan.

Efek samping ringan biasnaya bisa hilang dalam beberapa hari dan tidak akan menimbulkan komplikasi serius.

Akan tetapi, vaksin polio juga bisa menimbulkan efek serius seperti berikut:

  • gatal
  • kulit memerah
  • pucat
  • tekanan darah rendah
  • tenggorokan atau lidah bengkak
  • kesulitan bernapas
  • nadi cepat atau lemah
  • pembengkakan pada wajah atau bibir
  • mual
  • muntah
  • pusing
  • pingsan
  • kulit berwarna biru.

Menurut data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), sekitar satu dari 1 juta dosis vaksin polio bisa memicu reaksi alergi.

Reaksi ini biasanya terjadi dalam beberapa menit atau jam setelah menerima vaksinasi.

Baca juga: Penting untuk Perangi Penyakit Menular, Bagaimana Vaksin Dikembangkan?

Siapakah yang sebaiknya mendapatkan vaksin polio?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, polio bisa menyerang siapa saja, khususnya anak-anak.

Oleh karena itu, dokter menganjurkan setiap anak harus mendapatkan vaksin polio kecuali mereka yang alergi terhadap vaksin tersebut.

Jadwal pemberian vaksin pun bervariasi. Akan tetapi, vaksin polio umumnya diberikan pada usia berikut:

  • 2 bulan
  • 4 bulan
  • 6 sampai 18 bulan
  • 4 sampai 6 tahun.

Untuk orang dewasa, pemberian vaksin polio hanya diperlukan jika mereka belum pernah mendapatkannya.

Selain itu, orang dewasa juga harus melakukan vaksin polio jika berada dalam kondisi berikut:

  • bepergian ke negara dengan kasus polio tinggi
  • bekerja di laboratorium yang menangani virus polio
  • bekerja di bidang kesehatan dengan orang yang menderita polio.

Biasanya, dosis vaksin polio orang dewasa hanya memerluka satu hingga tiga dosis saja, tergantung pada berapa banyak dosis yang pernah diterima sebelumnya.

 


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X