Salin Artikel

Tak Hanya Alergi atau Iritasi, Gangguan Mental Juga Bisa Picu Eksim

KOMPAS.com -Eksim adalah kondisi kronis yang menyebabkan kulit kering, gatal, dan meradang.

Selain karena alergi dan infeksi kulit, faktor kesehatan mental seperti stres, depresi, dan kecemasan juga bisa memicu penyakit ini.

Pada saat yang sama, gejala eksim bisa semakin parah dan menyebabkan seseorang merasa lebih stres, cemas, atau tertekan.

Mereka juga mungkin mengalami kelelahan dan penarikan sosial karena gejala kesehatan fisik dan mental mereka.

Apa itu eksim?

Eksim adalah kondisi autoimun. Kondisi ini terjadi ketika seseorang memiliki sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif.

Kondisi ini memicu peradangan dalam tubuh, merusak penghalang kulit dan meningkatkan kerentanan terhadap bakteri, alergen, dan iritasi.

Eksim menyebabkan iritasi kulit, gatal, dan bengkak. Penyakit ini juga bisa menyebabkan benjolan, ruam berubah warna, dan kulit bersisik.

Kaitan eksim dan kesehatan mental

Selain menyebabkan gejala fisik, eksim dapat memengaruhi kesejahteraan mental dan emosional seseorang.

Faktanya, para peneliti telah menghubungkan eksim dengan beberapa kondisi kesehatan mental, termasuk stres, kecemasan, dan depresi.

Penelitian dari 2019 menunjukkan bahwa depresi lebih sering terjadi pada orang dengan kondisi autoimun seperti dermatitis atopik, yang merupakan salah satu jenis eksim.

Menurut peneliti, hal tersebut terjadi karena adanya perubahan inflamasi di otak yang terkait dengan kecemasan dan depresi.

Dalam riset yang sama, ditemukan bahwa orang dengan dermatitis atopik secara signifikan lebih mungkin mengalami ide bunuh diri dan upaya bunuh diri.

Para peneliti menyarankan bahwa ini sebagian mungkin disebabkan oleh efek dermatitis atopik.

Kondisi ini dapat menyebabkan gejala kulit yang melemahkan, kurang tidur, dan faktor psikososial seperti stigmatisasi, rasa malu, dan gangguan kinerja.

Seringkali, eksim dan kondisi kesehatan mental saling mempengaruhi, dengan gejala eksim berdampak negatif pada kesehatan mental dan sebaliknya.

Emosi atau peristiwa yang membuat stres dapat memicu respons "fight-or-flight" (respon tubuh saat stres), sehingga meningkatkan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol.

Memiliki kadar kortisol yang tinggi dapat meningkatkan peradangan kulit dan produksi minyak di kelenjar kulit, yang menyebabkan pori-pori tersumbat dan berjerawat.

Hal ini juga bisa memperburuk gejala eksim yang ada. Kadar kortisol yang tinggi juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, membuat tubuh lebih sulit melawan infeksi kulit dan meregenerasi kulit untuk mempercepat penyembuhan.

https://health.kompas.com/read/2022/07/30/103300868/tak-hanya-alergi-atau-iritasi-gangguan-mental-juga-bisa-picu-eksim

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.