Kasus Keracunan Makanan Dimulai sejak dari Dapur

Kompas.com - 02/03/2010, 10:54 WIB
Editoracandra

JAKARTA, KOMPAS.com — Belakangan ini, kasus keracunan makanan (poisoning) di Indonesia makin sering terjadi. Kamis (25/2), misalnya, sekitar 55 warga Jember, Jawa Timur, keracunan setelah menyantap hidangan di sebuah acara resepsi pernikahan. Korban keracunan mengalami mual, muntah, dan diare.

Peristiwa di Jember ini sama seperti yang sudah-sudah, yakni keracunan pada makanan siap santap yang diolah secara massal. ”Selama ini polanya memang seperti itu. Karena massal, tidak menutup kemungkinan tercemar kuman yang terdapat pada bahan makanan yang sudah tidak segar,” kata Mulyadi Tedjapranata, dokter yang berpraktik di Klinik Medizone, Kemayoran, Jakarta Utara. Kuman inilah yang menyebabkan racun ketika masuk ke dalam tubuh.

Hal senada disampaikan Eddy Setyo Mudjajanto, ahli keamanan pangan dari Departemen Gizi Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (IPB). Menurut Eddy, sebagian besar keracunan disebabkan perkembangan mikroorganisme. ”Sebanyak 90 persen kasus keracunan makanan disebabkan perkembangan mikroorganisme jahat,” kata Eddy.

Perkembangan mikroorganisme jahat ini bisa dimulai sejak makanan diolah di dapur. Penyebab berkembangnya mikroorganisme jahat bisa karena buruknya sanitasi dan kebersihan pengelolaan makanan.

”Itu semua terjadi karena rendahnya kesadaran pengelola makanan, terutama mereka yang mengolah makanan secara massal di dapur umum atau katering,” tutur Eddy.

Selain itu, bisa juga karena bahan baku makanan berkualitas rendah. Apalagi makanan berbahan dasar hewani yang memang kerap disinggahi mikroorganisme. ”Komponen protein dan lemak hewani paling cocok untuk perkembangan mikroorganisme,” ucap Eddy.

Penyebab lain bisa juga dari makanan hangat yang dibiarkan terbuka cukup lama. Asal Anda tahu, mikroorganisme justru berkembang pesat pada suhu makanan hangat. Karena itu, makanan yang belum sempat disantap sebaiknya jangan dibiarkan di ruangan terbuka terlalu lama.

Bukan hanya dari makanan, keracunan bisa juga disebabkan bahan tambahan yang tidak baik untuk tubuh. Misalnya, tambahan boraks dan formalin pada bakso dan ikan asin. Namun, reaksi keracunan yang disebabkan bahan tambahan makanan ini biasanya terjadi dalam waktu lama.

Gangguan pencernaan
Umumnya, reaksi pertama keluhan gangguan kesehatan akibat keracunan makanan ada di saluran pencernaan, seperti mual dan muntah. Ujung-ujungnya, akan terjadi diare yang menyebabkan tubuh kekurangan cairan atau dehidrasi. Dalam kondisi seperti itu, suhu tubuh bisa naik dan menyebabkan gangguan kesehatan lainnya yang lebih berat.

Tingkat keluhan yang dirasakan bergantung pada volume makanan yang dikonsumsi dan jenis bakterinya. Semakin banyak menyantap makanan terkontaminasi bakteri, semakin besar pula keluhannya. Begitu pula jika bakterinya berjenis patogen atau bakteri ganas, keluhan berat pun bisa terjadi.

Menurut Mulyadi, gejala keracunan terjadi dalam waktu relatif cepat setelah seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Jika seseorang keracunan bakteri salmonella, misalnya, reaksi tersebut akan muncul empat sampai enam jam setelah mengonumsi. ”Reaksi keracunan paling lama terjadi 20 jam setelah mengonsumsi makanan yang mengandung bakteri jahat,” kata Mulyadi. (Sanny Cicilia Simbolon)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.