Mengembalikan Pengetahuan Tumbuhan Obat

Kompas.com - 24/01/2011, 09:37 WIB
EditorAsep Candra
Oleh Nawa Tunggal

Ada semacam kealpaan dari sebagian ilmuwan atau akademisi yang telah selesai menempuh studi di luar negeri. Kealpaan itu adalah mereka yang menyerap ilmu dari Barat, sekembalinya di Tanah Air, melupakan dan mengabaikan pengembangan pengetahuan lokal tradisional, semisal tumbuh- tumbuhan obat atau ragam bahan pangan pokok.

Inilah kegalauan yang diungkap Ervizal AM Zuhud (51). Agustus tahun lalu, ia menerima pengukuhan sebagai profesor di bidang konservasi tumbuhan obat tropika di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

”Profesor bidang konservasi tumbuhan obat tropika mungkin yang pertama di Indonesia,” kata Ervizal, yang akrab dipanggil Doktor Amzu di Kampus IPB Dermaga, Bogor.

Sebagai dosen sekaligus peneliti di IPB, Ervizal berkecimpung dalam kegiatan riset etnobotani masyarakat tradisional di pelbagai pedalaman Indonesia.

Sejak 2009, Ervizal merintis Kampung Konservasi Taman Tumbuhan Obat Keluarga di Kampung Gunung Leutik, Ciampea, Bogor, dengan 237 spesies tumbuhan obat. Ketertarikan Ervizal memang terpusat pada mekanisme kearifan lokal dalam pemanfaatan aneka tumbuhan obat.

”Tumbuhan obat memainkan peran penting bagi kemandirian masyarakat tradisional kita,” ujar Kepala Bagian Konservasi Keanekaragaman Tumbuhan, Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB itu.

Dari kegiatan para periset etnobotani di Indonesia menunjukkan, 34 etnis menggunakan 78 spesies tumbuhan obat untuk mengobati malaria. Sebanyak 30 etnis menggunakan 133 spesies tumbuhan obat untuk mengobati demam, kemudian 110 spesies tumbuhan obat untuk mengobati gangguan pencernaan.

Hal itu pula yang menyadarkan Ervizal pada tahun 1992 untuk mendirikan Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia. Ini seiring memudarnya pengetahuan tentang tumbuhan obat itu sendiri oleh sebagian besar masyarakat kita.

Kedawung atau petai hutan

Kedawung (Parkia timoriana (DC) Merr) yang ditunjuk Ervizal sebagai tumbuhan obat terpenting di Jawa, sekarang sudah langka. Kedawung merupakan pohon raksasa berbatang besar dan lurus, yang juga dikenal sebagai petai hutan.

Halaman:

Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.