Kerja Lembur Picu Depresi Dua Kali Lipat

Kompas.com - 26/01/2012, 15:22 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Bagi Anda yang terbiasa bekerja lebih dari batas waktu yang ditentukan atau lembur sebaiknya berhati-hati. Sebuah riset terbaru menunjukkan, jam kerja yang panjang dapat meningkatkan risiko mengalami depresi.

Penelitian melibatkan 2.123 pegawai sipil di Inggris selama enam tahun menunjukkan, mereka yang bekerja setiap hari rata-rata minimal 11 jam di kantor memiliki peluang dua setengah kali lebih tinggi mengalami depresi ketimbang rekannya yang bekerja hanya tujuh atau delapan jam setiap hari.

Hubungan antara jam kerja yang panjang dan depresi tetap ada, meskipun peneliti telah memperhitungkan faktor-faktor pencetus lainnya seperti tekanan pekerjaan, dukungan di tempat kerja, penggunaan alkohol, merokok, dan penyakit fisik kronis.

Kepala Departemen Psikiatri di Lenox Hill Hospital New York City Bryan Bruno MD yang tidak terlibat dalam penelitian menilai, meski temuan ini konsisten dengan studi sebelumnya, tetapi cenderung ada peningkatan risiko depresi pada mereka yang terbiasa berkerja lembur.  

Uniknya, peneliti juga menemukan bahwa pegawai dengan jabatan rendah cenderung lebih mudah mengalami depresi ketika harus bekerja lembur ketimbang pegawai yang mempunyai jabatan tinggi seperti, sekretaris, direktur, supervisor, dan manajer.

Kepala Departemen Psikiatri, Pennsylvania State University Alan Gelenberg MD menduga, hal ini mungkin dikarenakan kontrol ketat yang didapat dari atasan cenderung lebih tinggi ketimbang pekerjaan mereka sendiri.  "Kita memiliki kontrol lebih atas apa yang kita kerjakan dan dapat memilih hal-hal yang menyenangkan. Saya melakukan apa yang ingin saya lakukan, dan ketika saya harus kerja lembur selama satu minggu penuh, itu pilihan saya," kata Gelenberg.

Peneliti mengatakan, kerja selama berjam-jam di kantor bisa menyebabkan depresi dalam beberapa cara, seperti menciptakan konflik keluarga, akibat meningkatnya kadar kortisol (hormon stres).  Selain itu, ketidakamanan dan kurangnya waktu tidur juga dapat membantu menjelaskan peningkatan risiko depresi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bruno mencatat bahwa hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kurang tidur sebagai faktor risiko utama dalam memicu depresi saat bekerja.  Beberapa penelitian sebelumnya yang mempelajari hubungan antara kerja lembur dan depresi menunjukkan hal yang sama, tetapi kebanyakan riset tersebut menerapkan standar yang kurang ketat dalam mengukur hubungan antara keduanya.

Dalam penelitian terbaru, Marianna Virtanen, Ph.D., dari Finnish Institue of Occupational Health di Helsinki melakukan kajian dengan menerapkan konsultasi secara langsung dan menggunakan kriteria resmi dari Asosiasi Psikiatri Amerika dalam mengukur depresi klinis. Vitanen berpendapat apa yang dilakukannya ini  adalah penelitian yang langka.

Dalam studi yang juga dipublikasi dalam jurnal PLoS ONE, Virtanen melibatkan para pegawai sipil dari 20 kantor cabang yang berbasis di London. Para pegawai yang terlibat dalam penelitian diketahui memiliki mental yang sehat ketika pertama dievaluasi antara tahun 1991-1993. Tetapi enam tahun kemudian,  lebih dari 3 persen pegawai mengalami depresi klinis. Risiko depresi meningkat pada mereka yang sering kerja lembur.

Peneliti mencatat, mayoritas peserta (sekitar 52 persen) bekerja selama 7-8 jam setiap hari. Sementara 37 persen yang lainnya bekerja 9-10 jam sehari, dan 11 persen bekerja 11 jam atau lebih.

Peneliti  mengakui, studi ini masih memiliki beberapa kekurangan. Kelemahan itu di antaranya adalah risiko depresi hanya diperhitungkan pada kalangan pekerja "kerah putih"  yang notabene bekerja di sektor formal. Alhasil, pengaruh kerja lembur dalam memicu depresi belum tentu berlaku sama pada kelompok pekerja kerah biru atau sektor informal.


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bagaimana Kolesterol Tinggi Bisa Menyebabkan Penyakit Liver?

Bagaimana Kolesterol Tinggi Bisa Menyebabkan Penyakit Liver?

Health
Mata Lelah

Mata Lelah

Penyakit
Ciri Sakit Kepala yang Mengarah pada Gejala Tumor Otak

Ciri Sakit Kepala yang Mengarah pada Gejala Tumor Otak

Health
Konjungtivis (Mata Merah)

Konjungtivis (Mata Merah)

Penyakit
15 Tahap Perkembangan Janin pada Trimester Kedua

15 Tahap Perkembangan Janin pada Trimester Kedua

Health
Osteoartritis

Osteoartritis

Penyakit
Kapan Waktu Tidur Siang yang Baik?

Kapan Waktu Tidur Siang yang Baik?

Health
Bintitan

Bintitan

Penyakit
Apa yang Boleh dan Tak Boleh Dilakukan Sebelum dan Setelah Vaksinasi Covid-19?

Apa yang Boleh dan Tak Boleh Dilakukan Sebelum dan Setelah Vaksinasi Covid-19?

Health
Glositis

Glositis

Penyakit
9 Ciri-ciri Penyakit Paru-paru, Tak Hanya Sesak Napas

9 Ciri-ciri Penyakit Paru-paru, Tak Hanya Sesak Napas

Health
Malnutrisi Energi Protein

Malnutrisi Energi Protein

Penyakit
Sakit Gusi Pantang Disepelekan, Kenali Bahayanya…

Sakit Gusi Pantang Disepelekan, Kenali Bahayanya…

Health
Bau Mulut

Bau Mulut

Penyakit
8 Bahaya Terlalu Banyak Minum Air Putih

8 Bahaya Terlalu Banyak Minum Air Putih

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.