Pengesahan RPP Tembakau Mendesak

Kompas.com - 26/05/2012, 06:11 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan perlu segera disahkan. Kian lambat, kian tinggi potensi lonjakan kasus penyakit tidak menular. Beban kesehatan negara pun membengkak.

”Rancangan peraturan pemerintah (RPP) ini dapat menjadi pengaman bonus demografi dari bahaya rokok,” kata peneliti Lembaga Demografi, Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan, di Jakarta, Jumat (25/5).

Bonus demografi ditandai rendahnya beban ketergantungan penduduk tak produktif (orang lanjut usia dan anak-anak) terhadap penduduk usia kerja. Ini kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Tiap bangsa diyakini hanya sekali mengalaminya.

Di Indonesia, bonus demografi diperkirakan terjadi tahun 2020- 2030. Saat itu, tiap 100 penduduk usia kerja menanggung 44 orang tak produktif. Maknanya, dalam satu keluarga terdapat 3 orang bekerja dengan satu anak.

Namun, potensi ini terancam oleh lonjakan kasus penyakit tak menular, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis. Semula penyakit ini identik pada orang tua. Kini, makin banyak orang muda mengalaminya.

Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan, Ekowati Rahajeng mengatakan, 59,5 persen kematian tahun 2007 dipicu oleh penyakit tidak menular. Padahal, tahun 1995 baru 41,7 persen.

”Salah satu faktor risiko penyakit tidak menular adalah merokok,” ujarnya.

Kondisi ini diperparah makin banyaknya perokok remaja. Prevalensi perokok laki-laki umur 15 tahun-19 tahun naik dari 13,7 persen tahun 1995 menjadi 37,3 persen tahun 2007. Perokok remaja putri pada umur yang sama naik dari 0,3 persen menjadi 1,6 persen pada waktu yang sama.

Padahal, para remaja ini akan menjadi tulang punggung ekonomi negara saat bonus demografi terjadi. Jika di usia muda sudah menderita aneka penyakit tidak menular, dipastikan beban kesehatan negara membesar.

”Penyakit tidak menular bersifat kronis, butuh biaya besar untuk mengobatinya,” katanya.

Halaman:

Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.