Kompas.com - 17/07/2012, 06:36 WIB
EditorLusia Kus Anna

Campak dan komplikasinya dapat dicegah dengan pemberian vaksin campak. Vaksin campak ada yang diberikan dalam bentuk monovalen (didesain melawan satu jenis mikroorganisme), kombinasi vaksin campak dengan rubela (MR), kombinasi campak dengan gondongan dan rubela (MMR), serta kombinasi campak dengan gondongan, rubela, dan cacar air (MMRV).

Ketua Satgas Imunisasi IDAI Sri Rezeki S Hadinegoro dalam acara seminar bertajuk ”Menjawab Pemikiran yang Keliru terhadap Program Imunisasi” mengatakan, waktu imunisasi campak penting mengingat adanya antibodi ibu yang diturunkan kepada bayi. Antibodi campak dari ibu bertahan sembilan bulan di dalam tubuh bayi.

”Oleh karena itu, vaksin campak diberikan setelah bayi berusia sembilan bulan,” ujarnya. Untuk menjamin perlindungan pada masa anak, pemberian vaksin campak diulang pada usia enam tahun.

Panduan Imunisasi Anak (2011) menyebutkan, imunisasi campak tidak dianjurkan jika ada risiko reaksi alergi yang berat (shock anafilaksis) terhadap vaksin atau komponen vaksin dan penderita penyakit akut berat dengan atau tanpa demam.

Anak dengan penyakit akut ringan, pengobatan antibiotik, HIV tanpa gejala AIDS, sakit kronis jantung, paru, dan ginjal, sindroma down, bayi prematur, baru mengalami pembedahan, kurang gizi, dan riwayat sakit kuning saat lahir masih direkomendasikan mendapat vaksin.

Kejadian ikutan

Kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) campak, berdasarkan Immunization Safety Surveillance WHO (1999), yang mungkin muncul ialah reaksi lokal, seperti sakit, bengkak kemerahan pada tempat suntikan, ruam, dan demam yang kejadiannya mencapai 5-15 persen di dunia.

Reaksi lebih berat, seperti kejang demam, penurunan trombosit, anafilaksis (reaksi alergi akut), atau ensefalopati (gangguan otak) sangat jarang terjadi. Risiko ensefalopati 6-12 hari sesudah imunisasi, misalnya, kurang dari 1 dalam 1 juta dosis.

Menurut Sri, efek samping vaksin dipantau oleh Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan KIPI yang beranggotakan ahli vaksin, obat, epidemolog, peneliti, dan dokter.

Penghambat pemberian vaksin antara lain isu vaksin dapat menimbulkan penyakit tertentu. Vaksin MMR, misalnya, pernah dituduh menyebabkan autisme. Penelitian ahli pencernaan Inggris, Andrew Wakefield, yang mengaitkan MMR dengan autisme tahun 1998 sempat menggegerkan. Namun, setelah diaudit General Medical Council Inggris, penelitian Wakefield dinyatakan melanggar etika. Belakangan, pada 5 Januari 2011, British Medical Journal memublikasikan kebohongan data penelitian Wakefield.

”Sejauh ini tidak ada bukti menyatakan efek buruk antara imunisasi dan gangguan kesehatan lain. Sebaliknya, banyak penelitian yang mendukung bahwa dengan imunisasi, anak akan terhindar dari ancaman penyakit berbahaya, kecacatan, dan kematian,” kata Sri.

Dalam hal ini termasuk ancaman campak.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.