Kompas.com - 15/01/2013, 19:50 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com - Penerimaan negara dari cukai rokok seharusnya dimanfaatkan seluruhnya untuk kepentingan kesehatan. Cukai rokok saat ini sebagian sudah dimanfaatkan untuk kesehatan, namun sebagian besarnya masih untuk kepentingan pertanian dan industri tembakau.

Demikian diungkapkan peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Abdillah Ahsan dalam seminar bertajuk "Cukai Rokok untuk Kesehatan", di Jakarta  Selasa (15/1/2013).

Cukai rokok saat ini mencapai Rp 77 triliun, 2 persennya yaitu sekitar Rp 1,5 triliun masuk ke kas pemerintah dan sisanya masuk ke kas daerah pemasok cukai.  Sementara itu, cukai rokok, yang sebanyak 2 persen tadi, oleh pemerintah masih dimanfaatkan untuk berbagai macam kepentingan. Antara lain peningkatan kesejahteraan pertanian tembakau, peningkatan mutu tembakau, dan pembangunan fasilitas kesehatan yang berbentuk infrastruktur.

"Memang sudah ada bagian yang dimanfaatkan untuk kepentingan kesehatan, namun sifatnya masih infrastruktur seperti pembangunan rumah sakit dan pembelian transportasi rumah sakit," ungkap Abdillah.

Padahal, lanjut Abdilah, secara hakikatnya, cukai dibuat untuk pembatasan konsumsi. Tetapi pemanfaatan cukai rokok oleh pemerintah saat ini malah akan meningkatkan konsumsi rokok, khususnya pemanfaatan cukai rokok untuk kepentingan pertanian dan industri tembakau.

"Cukai rokok yang rumit kami harap dapat disederhanakan dan seluruhnya dimanfaatkan untuk kepentingan kesehatan," tegas Abdillah.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany menyatakan, cukai rokok merupakan sebuah sumber dana yang mudah dikumpulkan dalam jumlah besar dan seharusnya untuk kesehatan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurutnya, rokok sebagai benda yang berbahaya bagi kesehatan perokok sendiri maupun orang lain sudah sepatutnya dikenakan denda bagi siapapun yang mengonsumsinya. Cukai rokok dapat dipandang sebagai denda untuk mendanai eksternalitas dan mencegah orang merusak atau mengganggu orang lain.

"Sebaiknya Indonesia mencontoh negara lain yang menggunakan denda rokok untuk pengendalian konsumsi tembakau, promosi kesehatan, pencegahan penyakit, dan jaminan kesehatan," katanya.

"Tidak seharusnya cukai rokok digunakan untuk mendanai berobat si perokok, tapi untuk orang lain yang jadi korban dari rokok," tambahnya.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X