Kompas.com - 03/05/2013, 11:22 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Maraknya obat palsu di Indonesia salah satunya disebabkan oleh karakter masyarakat Indonesia yang masih belum kritis terhadap efek menyimpang obat. Kebanyakan masyarakat Indonesia bersikap "ikhlas" menerima jika gangguan penyakit tak kunjung sembuh, bahkan memburuk, setelah minum obat tertentu.

Demikian disampaikan staf pengajar Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI Dr. Melva Louisa dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (2/5/2013) kemarin.  

"Seharusnya masyarakat bisa lebih kritis jika penyakit tidak sembuh-sembuh, apalagi kalau sampai terjadi kematian jangan langsung menganggap karena takdir, bisa jadi salah konsumsi obat palsu," tandasnya.

Melva mencontohkan, negara dengan kasus obat palsu yang terus menurun adalah Hongkong dan Singapura. "Kedua negara itu sangat kritis pada pasien yang keadaannya bertambah buruk. Setelah ditelusuri, ternyata pasien mengonsumsi obat palsu," tuturnya.

China, lanjut Melva, juga merupakan negara yang patut dicontoh dalam menanggulangi kasus obat palsu. Pemerintah China sangat tegas dalam menyikapi produsen obat palsu, sehingga penyebaran obat palsu sangat minim di China.

"Sayangnya, industri obat palsu China masih bisa bertahan karena hasil obatnya malah diekspor ke luar negeri. Inilah pentingnya bagi masyarakat untuk lebih mewaspadai obat palsu, guna memusnahkan industri obat palsu juga," papar Melva.

Melva mengatakan, obat-obatan yang paling kerap dipalsukan yaitu obat-obat yang berhubungan dengan gaya hidup seperti obat pelangsingan, obat kecantikan, dan obat kuat. Selain itu, ada juga obat pereda rasa sakit, obat yang diresepkan, obat suntik, obat yang persediaannya terbatas, bahkan obat generik.

Efek dari obat palsu, lanjutnya, bisa beragam, di antaranya khasiat obat kurang kuat, tidak memberikan efek sama sekali, menyebabkan kondisi pasien memburuk, memicu resistensi, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Persentase obat palsu di Indonesia masih belum ada pastinya. Namun Badan Kesehatan PBB (WHO) memprediksikan ada sekitar 25 persen obat yang beredar di Indonesia merupakan obat palsu. Sedangkan untuk negara-negara berkembang lainnya, diprediksi 10 hingga 40 persen.

Di lain pihak, pemerintah juga seharusnya lebih ketat mengawasi peredaran obat palsu agar tidak lebih banyak lagi masyarakat yang menjadi korban.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.