Kompas.com - 22/05/2013, 20:58 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Pria yang mengalami impotensi atau disfungsi ereksi (DE) sebenarnya tidak perlu segan ataupun merasa malu untuk memeriksaan keluhannya. Dengan berkonsultasi kepada dokter, permasalahan ereksi  60 hingga 70 persennya dapat disembuhkan.

Proses pemeriksaan untuk mendeteksi DE dilakukan oleh setiap dokter melalui tahapan yang relatif sederhana. Dalam memperoleh diagnosa yang tepat, pasien hanya perlu melewati tiga tahap pemeriksaan.

Spesialis penyakit dalam dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo dr. Em Yunir mengatakan, pemeriksaan untuk mendeteksi DE dilakukan dengan tiga langkah yakni mengisi kuisioner, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Berikut adalah penjelasan ketiga tahapan tersebut :

1. Kuisioner

Kuesioner biasanya diberikan saat pasien pertama kali datang. Kuisioner yang diberikan berupa International Index of Erectile Function (IIEF) yang berisi sederetan pertanyaan tertingkat. Kuisioner tersebut bisa mengidentifikasi permasalahan ereksi yang diderita.

Pertanyaan di dalamnya antara lain seputar kemampuan untuk melakukan ereksi, kualitas ereksi, kuantitas ereksi, dan kemampuan mempertahankan ereksi. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian diberi poin dan diakumulasi.

2. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan dengan melihat ciri-ciri seksual sekunder seperti suara, rambut-rambut seperti kumis, jenggot, ketiak, hingga pubis. Jika ciri-ciri tersebut dirasa lemah kemungkinan pasien mengalami gangguan hormonal, yaitu minimnya produksi hormon testosteron.

Kemudian dilakukan perabaan pada penis, testis, dan organ seksual lain untuk mengetahui jika ada kelainan. Urolog dari Departemen Urologi FKUI/RSCM dr. Nur Rasyid mengatakan, kelainan dapat berupa peruni yaitu bagian yang mengeras pada kulit penis yang mengakibatkan penis bengkok.

"Biasanya dokter akan melakukan penyuntikan untuk menghilangkannya, namun jika sudah parah bisa dioperasi," tutur Nur.

3. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk mengetahui keadaan kesehatan umum pasien. Pasien yang memiliki faktor risiko seperti diabetes mellitus, kolesterol tinggi, gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi liver, hipertensi, stroke, penyakit jantung, gangguan hormonal, dan lain-lain lebih mungkin menderita DE. Maka, pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium yang dapat mengungkap risiko-risiko tersebut.

DE didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mencapai, atau mempertahankan ereksi penis dalam kurun waktu 3 bulan terakhir untuk melakukan hubungan seksual secara memuaskan. DE merupakan masalah yang cukup kompleks dan dapat menurunkan kualitas hidup seorang pria.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.