Radiasi Nuklir Tak Picu Peningkatan Kanker di Jepang

Kompas.com - 01/06/2013, 13:47 WIB
EditorLusia Kus Anna

Kompas.com — Sekalipun reaktor nuklir di Jepang mengalami kerusakan pascagempa berskala magnitude 9 dan tsunami, tetapi evakuasi yang cepat dilakukan oleh Pemerintah Jepang berhasil mencegah peningkatan kasus kanker dan gangguan kesehatan lainnya.

Paparan radiasi setelah kebocoran reaktor nuklir yang terjadi dua tahun lalu itu dinyatakan tidak menyebabkan efek kesehatan yang segera. Demikian menurut United Nation Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation (UNSCEAR) dalam pertemuan tahunan mereka.

Meskipun kebocoran reaktor nuklir di Jepang ini dianggap yang terburuk dalam 25 tahun terakhir, tetapi dampaknya jauh berbeda dengan peristiwa di Chernobyl tahun 1986. Pada saat itu reaktor milik Soviet itu meledak dan menyebarkan debu radioaktif sampai ke Eropa dan dipercaya memicu terjadinya kanker tiroid pada anak-anak.

Gempa berkekuatan magnitude 9 dan tsunami di Jepang pada Maret 2011 itu membunuh hampir 19.000 orang dan menghancurkan wilayah Fukushima Daiichi, menyemburkan radiasi, serta memaksa 160.000 orang meninggalkan rumah mereka.

Tindakan untuk melindungi penduduk di area terdampak, termasuk evakuasi, secara signifikan mengurangi paparan kandungan radioaktif.

"Tindakan tersebut sangat bernilai untuk mengurangi potensi paparan radiasi sampai 10 faktor. Jika tidak begitu mungkin saat ini kita sudah melihat peningkatan kasus kanker dan masalah kesehatan lain yang timbul beberapa dekade kemudian," kata Wofgang Weiss, anggota senior UNSCEAR.

Ia mengatakan bahwa dosis radiasi yang ditimbulkan sangat rendah sehingga sangat kecil kemungkinan akan meningkatkan kasus kanker.

Hasil penelitian tersebut tampak berbeda dengan laporan WHO yang dipublikasikan pada bulan Februari lalu yang menyebutkan bahwa penduduk di sekitar lokasi nuklir mengalami peningkatan beberapa kanker, meski kecil.

Weiss mengatakan, penelitian yang dilakukan UNSCEAR dilakukan oleh 80 pakar dan melibatkan 5 organisasi internasional, termasuk badan kesehatan PBB itu berdasarkan informasi yang meliputi periode panjang pascakejadian.

Meski hanya menyebabkan tingkat radiasi yang kecil, kematian yang tidak terkait radiasi atau efek langsung dari kejadian itu diamati terhadap 250.000 pekerja, termasuk para karyawan reaktor nuklir.

Halaman:

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X