Kompas.com - 11/06/2013, 16:35 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com — Kanker masih menjadi momok menakutkan karena penyakit ini memiliki risiko kematian yang sangat tinggi. Kendati kanker dapat diobati, pengobatan kanker yang dikenal selama ini seperti kemoterapi dan radiologi berpotensi tidak hanya mematikan sel kanker, tetapi juga sel-sel normal.

Seakan menjawab permasalahan ini, sebuah studi baru asal Australian Academy of Science mengembangkan metode pengobatan baru kanker berbasis molekuler. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature ini mengungkap, kunci mengobati sel kanker adalah dengan mengetahui konsep kematian sel.

Ketua studi sekaligus Presiden Australian Academy of Science, Profesor Suzanne Cory, mengatakan, kematian merupakan hal alami yang dialami oleh sel. Jika sel tidak mengalami kematian, dan terus tumbuh, hal itu justru akan mengakibatkan kanker.

"Kematian dan kehidupan sel diatur oleh gen. Mencoba memahami terbentuknya kanker hingga ke tingkat gen dapat meningkatkan efektivitas pengobatan," papar Cory seusai Australia Indonesia Science Seminar Series bertajuk "Harnessing Death for Life", Selasa (11/6/2013) di Jakarta.

Cory menuturkan, kanker terjadi karena adanya gen yang mengakibatkan gangguan pada sifat kematian alami sel (apoptosis). Lantaran terjadi gangguan apoptosis, terjadilah sel-sel yang terus bertumbuh tidak terkendali. Sel-sel inilah yang disebut kanker.

"Maka pengobatan yang sedang dikembangkan menargetkan pada gen yang membuat gangguan apoptosis tersebut," imbuh profesor di bidang biologi medis ini.

Prinsip pengobatan, lanjut Cory, yaitu menyisipkan molekul sintetik ke dalam tubuh yang dapat mengembalikan sifat apoptosis yang dimiliki sel. Lantaran bersifat spesifik pada sel yang mengalami gangguan, maka molekul tidak akan mempengaruhi sel lainnya yang bersifat normal.

Studi yang dimulai sejak tahun 1998 ini menunjukkan hasil yang menjanjikan pada tikus. Bahkan, uji coba selanjutnya yang dilakukan terhadap tiga pasien leukemia menunjukkan hasil yang memuaskan.

"Pengobatan ini sangat menjanjikan karena dapat menjadi obat kelas baru yang efektif untuk banyak tipe kanker," pungkas Cory.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

8 Penyebab Memar Tanpa Sebab Jelas, Bisa Jadi Gejala Penyakit

8 Penyebab Memar Tanpa Sebab Jelas, Bisa Jadi Gejala Penyakit

Health
10 Obat Batuk Berdahak Alami ala Rumahan

10 Obat Batuk Berdahak Alami ala Rumahan

Health
5 Cara Mengatasi Kram Perut saat Hamil

5 Cara Mengatasi Kram Perut saat Hamil

Health
4 Cara Mencegah Diabetes Gestasional untuk Ibu Hamil

4 Cara Mencegah Diabetes Gestasional untuk Ibu Hamil

Health
Manfaat Makan Kacang Tanah untuk Penderita Diabetes

Manfaat Makan Kacang Tanah untuk Penderita Diabetes

Health
Cacat Septum Ventrikel

Cacat Septum Ventrikel

Penyakit
Makanan yang Harus Dihindari setelah Alami Keracunan Makanan

Makanan yang Harus Dihindari setelah Alami Keracunan Makanan

Health
Limfoma Sel Mantel

Limfoma Sel Mantel

Penyakit
Cara Hilangkan Kutu Rambut dengan Minyak Kelapa

Cara Hilangkan Kutu Rambut dengan Minyak Kelapa

Health
Pahami Pemicu dan Cara Mencegah Selulit

Pahami Pemicu dan Cara Mencegah Selulit

Health
Hidradenitis Supurativa

Hidradenitis Supurativa

Penyakit
Susu Almond vs Susu Kedelai, Mana yang Lebih Sehat?

Susu Almond vs Susu Kedelai, Mana yang Lebih Sehat?

Health
Sistokel

Sistokel

Penyakit
Nyeri Dada sampai ke Punggung Gejala Penyakit Apa?

Nyeri Dada sampai ke Punggung Gejala Penyakit Apa?

Health
Dystocia

Dystocia

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.