Perusahaan China Berharap Bangun RS di Indonesia

Kompas.com - 22/07/2013, 23:41 WIB
Suasana pelayanan kesehatan di Modern Cancer Hospital Guangzhou, Senin (22/7/2013). Rumah sakit  kanker dan tumor di kota Guangzhou ini merupakan salah satu jaringan dari Boai  Enterprise Group.  KOMPAS.com/Asep CandraSuasana pelayanan kesehatan di Modern Cancer Hospital Guangzhou, Senin (22/7/2013). Rumah sakit kanker dan tumor di kota Guangzhou ini merupakan salah satu jaringan dari Boai Enterprise Group.
Penulis Asep Candra
|
EditorAsep Candra


GUANGZHOU, KOMPAS.com — Boai Enterprise Group, perusahaan China yang bergerak di bidang industri medis, berharap dapat memperlebar sayap bisnisnya di Indonesia dengan membangun rumah sakit. Harapan tersebut diungkapkan chairman Boai Group, Lin Zhicheng, di sela-sela kunjungan media dan para ahli pengobatan dari Ikatan Naturopatis Indonesia, Senin (22/7/2013) di Guangzhou, China.  

Lin menyatakan, pihaknya berkeinginan untuk mewujudkan pembangunan rumah sakit di salah satu kota besar di Indonesia, setidaknya dalam lima tahun ke depan. Ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan pelayanan kepada pasien, sekaligus mempererat kerja sama dengan Indonesia.    

"Kami ingin terus meningkatkan kerja sama dengan Indonesia. Dalam lima tahun ke depan, kami berharap dapat membuka rumah sakit di sana," ungkap Lin.

Perusahaan yang dipimpin Lin merupakan korporasi yang membawahi ratusan rumah sakit di China, termasuk Modern Cancer Hospital Guangzhou, salah satu tempat yang banyak dikunjungi warga Indonesia untuk berobat tumor dan kanker.  

Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak "menyumbang" pasien ke Negeri Tirai Bambu. Tercatat setiap tahunnya ribuan orang dari Tanah Air berobat ke rumah sakit China, terutama untuk jenis penyakit yang sulit disembuhkan, seperti tumor dan kanker. Di kawasan Asia Tenggara, Boai Enterprise Group juga telah melebarkan sayapnya, antara lain dengan membangun tiga rumah sakit di Vietnam.

Diakui Lin, mendirikan rumah sakit di Indonesia masih menjadi suatu hal yang sulit direalisasikan mengingat banyak kendala yang dihadapi. Boai Group pernah menjajaki kemungkinan tersebut dan menemukan beberapa perbedaan hal yang prinsipal, seperti regulasi dan sistem pelayanan medis serta perbedaan budaya dan kebiasaan di kedua negara.

Salah satu yang berbeda, papar Lin, adalah peraturan tentang pola kerja dokter dan tenaga medis. Di China, pemerintah hanya mengizinkan seorang dokter berpraktik di satu rumah sakit saja selama 365 hari atau satu tahun. Berbeda dengan dokter di Indonesia yang boleh berpraktik sendiri di rumah bahkan bekerja untuk beberapa klinik dan rumah sakit.

Selain itu, kata Lin, hal lain yang berbeda adalah sistem pengambilan keputusan terkait pengobatan pasien. Di China, keputusan medis biasanya ditetapkan oleh satu tim lengkap terdiri dari ahli berbagai spesialisasi. Hal ini berbeda dengan pelayanan rumah sakit di Tanah Air yang keputusannya dapat ditentukan oleh satu atau dua dokter.          

Meski sulit, Lin tetap yakin harapannya untuk membuka rumah sakit di Indonesia dapat terwujud melalui suatu proses yang bertahap. Untuk tahap awal, pihaknya terus meningkatkan kerja sama melalui transfer ilmu kedokteran dengan mengundang para ahli pengobatan dari Indonesia untuk belajar di China.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X