Kompas.com - 17/08/2013, 08:44 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Kebutaan memiliki dampak yang nyata bagi penurunan kualitas hidup penderita berserta lingkungannya. Penyebab kebutaan salah satunya yaitu penyakit yang dinamakan degenerasi makula. Penderitanya mengalami kerusakan retina pada mata sehingga penglihatan menjadi terganggu, bahkan hilang sama sekali.

Namun kini para peneliti semakin dekat dengan penemuan sebuah metode terapi baru untuk mengobati penyakit tersebut. Motode tersebut mengontrol pergerakan mata manusia dan dapat memberikan perubahan positif setelah beberapa jam diaplikasikan.

Para peneliti mengatakan, temuan ini menawarkan cara baru untuk membantu penderita degenerasi makula yang tidak mampu lagi melihat.

Mereka menjelaskan, kebutaan yang disebabkan oleh degenerasi makula terjadi saat adanya kerusakan pada bagian dari retina yang disebut fovea. Untuk dapat melihat, mata menggerakan fovea ke beberapa bagian yang berbeda. Karena mengalami kerusakan, maka fovea pun tidak dapat melakukan tugasnya dan akhirnya gagal menciptakan gambar.

Ketua studi Bosco Tjan dari University of Southern California mengatakan, sistem yang mengontrol pergerakan mata bergerak lebih lembut daripada yang tertulis di literatur. Namun normalnya, mata dapat menyesuaikan dengan cepat jika ada penyumbatan pada fovea dengan mengalihkan titik penglihatan ke tepi.

"Dengan mengalihkan titik penglihatan, mata pun dapat melihat kembali," imbuhnya.

Tjan dan timnya melakukan percobaan pada enam orang dewasa muda yang memiliki penglihatan normal. Mereka disimulasikan mengalami gangguan penglihatan dengan menutup pusat fovea mereka menggunakan lempeng abu-abu.

Kemudian para peserta diminta untuk melakukan tugas untuk mencari objek-objek tertentu dengan melihatnya. Setelah tiga jam, ternyata mereka telah menyesuaikan gerakan mata untuk mengerjakan tantangan yang diberikan. Bahkan setelah beberapa minggu kemudian pun, mereka masih mampu melakukannya.

"Kami sangat terkejut dengan cepatnya laju penyesuaian gerakan mata dengan metode ini," ungkap para peneliti.

Para peneliti mencatat, penderita degenerasi makula pun sebenarnya bisa melakukan adaptasi ini secara normal. Sayangnya, proses tersebut memakan waktu lama, hingga berbulan-bulan. Maka mereka berharap, metode ini dapat membantu mereka untuk melakukan adaptasi penglihatan dengan lebih cepat.

Studi baru ini dipublikasikan dalam jurnal Current Biology edisi Agustus.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.