Kompas.com - 19/09/2013, 08:13 WIB
EditorAsep Candra


KOMPAS.COM - Hingga menginjak usia satu tahun, bayi biasanya masih mendapatkan ASI sebagai salah satu sumber pemenuhan gizi.  Pemberian air susu ibu disesuaikan dengan keinginan bayi (on demand). Separuh kebutuhan bayi dapat terpenuhi dari ASI, dan sebagian kebutuhan lain dipenuhi dari makanan pendamping ASI (MPASI). 

Pemberian ASI sebenarnya tetap dapat dipertahankan hingga usia 2 tahun. Meski begitu, para ibu dapat mengurangi frekuensi pemberian ASI sedikit demi sedikit. Upaya menyapih bayi ini tentu harus dilakukan bertahap, dan harus menghindari penghentian secara tiba-tiba.

Setelah usia 12 bulan, frekuensi pemberian ASI mulai berkurang karena si kecil mulai diperkenalkan dengan makanan keluarga. Makanan padat berupa MPASI mulai diberikan untuk memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI.

Adapun tujuan pemberian MPASI adalah untuk menambah energi dan zat-zat gizi yang diperlukan anak, beradaptasi terhadap makanan yang mengandung kadar energi tinggi, membiasakan mengonsumsi maknaan bergizi seimbang, mengembangkan kemampuan anak untuk menerima bermacam-macam makanan dengan berbagai rasa dan bentuk serta mengembangkan kemampuannya untuk mengunyah dan menelan makanan padat.

Selain itu, anak mulai mengembangkan kebiasaan makan, yakni membiasakan pola makan keluarga sehari-hari: sarapan, makan siang dan malam, serta diselingi camilan di antara dua waktu makanan utama.

Untuk rentang usia 12-14 bulan ini, pemberian makanan keluarga setidaknya tiga kali sehari dengan porsi separuh makanan orang dewasa setiap kali makan. Lalu, berikan makanan selingan dua kali sehari.

Tak kalah penting utuk selalu memerhatikan variasi makanan yang diberikan dengan padanan bermacam bahan makanan, misalnya nasi, ikan, telur, tempe, tahu, bayam, wortel, tomat dan sebagainya. Intinya, perhatikan kualitas gizi makanan yang hendak dikonsumsi sang buah hati.

“Kenapa banyak anak yang tidak doyan sayur dan pilih-pilih makanan? Karena orangtua sudah mengajarkan makanan yang manis dari kecil, sedangkan sayur rasanya hambar jadi anak tidak mau. Jadi variasikan menu makanan untuk anak,” papar dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, Sp.GK, ahli gizi klinik dari Departemen Gizi FKUI-RSCM.

Perhatikan kualitas gizi

Kenapa demikian? Karena dengan pemberian makanan yang berkualitas dan kuantitasnya baik dapat menunjang tumbuh kembang, sehingga anak dapat tumbuh normal dan sehat serta terbebas dari penyakit.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.