Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 13/11/2013, 16:07 WIB
Penulis Wardah Fajri
|
EditorAsep Candra

KOMPAS.com
 — Diet mediterania dapat mengurangi risiko penyakit ginjal pada pasien sehat. Diet jenis ini melindungi dari perkembangan kejadian penyakit ginjal kronis dan penurunan secara cepat fungsi ginjal.

Studi kohor prospektif (studi obervasional pada sekelompok orang yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit), menunjukkan pada pasien yang memiliki kebiasaan makan mendekati pola diet mediterania, risiko penyakit ginjal kronis berkurang hingga 50 persen dalam periode tujuh tahun. Sebagai pembanding, kondisi ini tak dialami pasien yang tidak memiliki pola makan kaya asupan buah dan sayur serta tidak menghindari lemak jenuh dalam asupan hariannya.

Minesh Khatri, MD, dan koleganya dari Columbia University Medical Center menyebutkan, meski tidak signifikan, diet mediterania bisa mendorong angka perkiraan kecepatan filtrasi glomeruli atau eGFR sebagai salah satu penanda penyakit ginjal.

Menurut Khatri, saat ini metode pemulihan untuk penyakit ginjal kronis masih sangat terbatas meskipun modifikasi diet masih menjanjikan baik untuk terapi maupun pencegahan.

Sejumlah penelitian juga masih terfokus pada pembatasan protein untuk pasien prakondisi penyakit ginjal. Cara ini masih menunjukkan manfaat yang terbilang sederhana. Namun, pertanyaan yang masih muncul adalah apakah pola diet lain bisa berdampak pada penyakit ginjal? juga apakah pola diet lain bisa mencegah berkembangnya kondisi penyakit?

Secara spesifik, para peneliti kemudian tertarik pada potensi efek diet mediterania untuk penyakit ginjal. Pasalnya, diet ini terbukti punya efek positif pada penyakit kaardiovaskular.

Pada diet mediterania, makanan yang diasup lebih banyak buah, sayur, kacang-kacangan, sereal, ikan, lemak tak jenuh tunggal, serta rendah asupan produk susu, daging, lemak jenuh, dan alkohol. Diet ini banyak dikaitkan dengan kondisi yang lebih baik pada tekanan darah, kolesterol, inflamasi, dan risiko kardiovaskular secara keseluruhan.

Studi kohor prospektif oleh Khatri dan kolega ini menganalisis data dari Northern Manhattan Study (NOMAS), yang melibatkan 3.300 pasien sejak 1993.

Seluruh pasien mengisi kuesioner mengenai frekuensi makanan. Khatri dan kolega kemudian mengembangkan sistem penilaian dengan sembilan poin untuk mengukur sedekat apa pola makan pasien dengan pola diet mediterania.

Penelitian berfokus pada 900 pasien yang menjalani pengukuran fungsi ginjal, dan mengobservasinya selama tujuh tahun.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+