Kompas.com - 14/02/2014, 16:29 WIB
Ilustrasi kanker payudara ShutterstockIlustrasi kanker payudara
Penulis Wardah Fajri
|
EditorWardah Fajri
KOMPAS.com - Kecanggihan teknologi alat medis, terutama radiologi, menentukan tingkat akurasi gambar yang memengaruhi diagnosis lebih tepat. Pada pemeriksaan kanker payudara, dalam hal ini deteksi dini, penggunaan alat canggih juga membantu ahli memberikan dioagnosis akurat. Namun secanggih apa pun alat medis, sebagian orang yang mampu secara ekonomi melakukan pemeriksaan, masih terkalahkan rasa takut menjalani pemeriksaan atau pengobatan kanker payudara.

Menurut spesialis radiologi, Nina ISH Supit, alat medis yang canggih seperti mamografi digital memberikan kualitas gambar lebih baik. Diagnosis pun menjadi lebih akurat.  Nina mencontohkan, bagaimana teknologi mamografi canggih yang belum tersedia di Indonesia 10 tahun lalu menyulitkan pemeriksaan dini kanker payudara.

"Pemeriksaan sulit untuk payudara kecil, karena sulit ditekan, sehingga stuktur yang masuk sedikit. Ukuran payudara besar juga membingungkan karena film mamografi belum ada yang besar. Namun dengan majunya ternologi, ukuran payudara tidak jadi masalah dalam pemeriksaan," ungkapnya kepada Kompas Health di sela workshop edukasi publik kanker payudara diadakan Tahir Foundation dan Pink Shimmerinc, di Rumah Sakit Mayapada, Jakarta Selatan, Jumat (14/2/2014).

Dalam paparannya saat workshop, Nina mengatakan deteksi dini kanker payudara dengan mamografi dan ultrasonografi masih menjadi rekomendasi. Deteksi dini menjadi penting karena 75 hingga 85 persen tumor payudara ditemukan saat melakukan Sadari (Periksa payudara sendiri) dan kanker payudara kerap diderita tanpa adanya keluhan.

Mamografi juga memberikan hasil terbaik dengan tingkat akurasi 75 hingga 90 persen, sensivitas 65 hingga 95 persen, dan spesifitas 75 persen.

"Mamografi bersamaan dengan ultrasonografi akan lebih maksimal. Mamografi biasanya untuk di atas usia 40 saat jaringan lemak di payudara semakin banyak sehingga tumor kecil bisa kelihatan. Pemeriksaan dengan usg biasanya untuk usia muda," ungkapnya.

Sementara menurut penyintas kanker payudara pendiri Pink Shimmerinc, Dinda Nawangwulan, meski fasilitas pemeriksaan tersedia, dengan teknologi canggih, pengobatan medis juga semakin baik dengan teknik kian maju, kendalanya kembali kepada kemauan untuk memeriksakan diri atau untuk berobat.

"Biaya tinggi memang masih menjadi kendala dalam pemeriksaan dan pengobatan kanker payudara. Namun mau tidaknya berobat itu lebih besar pengaruhnya. Ada yang punya dana dan fasilitas pemeriksaan, namun tidak mau melakukan karena ketakutan," jelasnya pada kesempatan yang sama.

Dinda mengatakan kesadaran untuk mau berusaha memeriksakan diri atau berobat, terutama saat sudah muncul gejala, masih rendah. Inilah yang membuatnya aktif melakukan program edukasi kanker payudara bekerjasama dengan berbagai pihak.

"Apa susahnya cek dengan USG atau mamografi," tegas Dinda yang menjalani pengobatan kanker payudara lima tahun lamanya.

Menurutnya, dengan semakin canggihnya alat medis, siapa pun yang memiliki faktor risiko tinggi kanker payudara tak perlu takut memeriksakan diri. Begitu pun bagi mereka yang sudah mulai merasakan adanya gejala,pemeriksaan dan pengobatan perlu dilakukan. Karena jika terlambat, pengobatan bisa berlangsung lebih lama, bisa sampai puluhan tahun.

Dinda bercerita ia melakukan deteksi dini dan mendapati dirinya terkena kanker payudara stadium satu, grade tiga pada usia 30. Meski awalnya takut, Dinda mengaku lebih percaya diri dengan banyaknya dukungan positif terutama dari keluarga. Dukungan inilah yang kemudian mendorongnya segera bertindak mencari solusi, melakukan mastektomi dilanjutkan rekonstruksi payudara.

"Sekarang alat makin canggih, teknik makin maju, cara pengobatan lebih baik. Wanita tidak perlu merasa down. Pengangkatan payudara tidak harus selalu dilakukan. Bisa dengan angkat tumor dan terapi, mungkin lebih banyak kemoterapi, atau treatment berkala ditambah. Jadi tidak perlu takut apalagi jika ada biaya," tandasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Makanan Terbaik dan Terburuk untuk Penderita Diabetes, Apa Saja?

Makanan Terbaik dan Terburuk untuk Penderita Diabetes, Apa Saja?

Health
Apakah Saat Demam Boleh Mandi?

Apakah Saat Demam Boleh Mandi?

Health
11 Makanan dan Minuman yang Pantang untuk Penderita Diabetes

11 Makanan dan Minuman yang Pantang untuk Penderita Diabetes

Health
Waspadai, Berat Badan Turun Drastis Bisa Jadi Tanda Diabetes

Waspadai, Berat Badan Turun Drastis Bisa Jadi Tanda Diabetes

Health
Cara Mengatasi Bisul di Bokong

Cara Mengatasi Bisul di Bokong

Health
5 Obat Batuk Anak Alami yang Aman dan Praktis

5 Obat Batuk Anak Alami yang Aman dan Praktis

Health
Apa Perbedaan Vegetarian dan Vegan?

Apa Perbedaan Vegetarian dan Vegan?

Health
4 Tanda Diabetes yang Sering Tak Disadari

4 Tanda Diabetes yang Sering Tak Disadari

Health
8 Makanan yang Dapat Menyehatkan kulit

8 Makanan yang Dapat Menyehatkan kulit

Health
Mengapa Diabetes Dapat Menyebabkan Nyeri Sendi?

Mengapa Diabetes Dapat Menyebabkan Nyeri Sendi?

Health
4 Cara Untuk Menstimulasi dan Mempercepat Proses Persalinan

4 Cara Untuk Menstimulasi dan Mempercepat Proses Persalinan

Health
Splenomegali

Splenomegali

Penyakit
4 Faktor Risiko Penyakit Jantung

4 Faktor Risiko Penyakit Jantung

Health
Orkitis

Orkitis

Penyakit
14 Tips Merawat Kaki Penderita Diabetes

14 Tips Merawat Kaki Penderita Diabetes

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.