Kompas.com - 18/02/2014, 09:49 WIB
EditorAsep Candra


KOMPAS.com-  Kelompok pegiat lingkungan hidup Greenpeace menemukan adanya zat kimia berbahaya pada produk-produk pakaian dan sepatu anak-anak yang dibuat oleh merek fashion mewah. 

Zat kimia ini dapat terlepas ke lingkungan saat produk fashion dicuci sehinga kemudian mencemari air dan menimbulkan potensi gangguan hormon. Greenpeace pun mempertanyakan reputasi perusahaan produk mewah ini untuk standar yang lebih tinggi dibanding produk fashion massal.

Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan Senin (17/2/2014) sebelum Milan Fashion Week, Greenpeace mengatakan mereka menemukan substansi berbahaya pasa produk-produk Dolce & Gabbana, Giorgio Armani, Versace, Hermes, Christian Dior, Louis Vuitton dan Marc Jacobs.
 
Greenpeace telah aktif berkampanye menentang penggunaan polutan pada industri tekstil sejak 2011. Kelompok lingkungan  tersebut menginginkan, merek mewah dan pemasok mereka untuk berhenti menggunakan zat kimia berbahaya untuk air selambat-lambatnya pada tahun 2020.
 
Uni Eropa telah melarang penggunaan beberapa bahan kimia ini pada industri karena prihatin beracun terhadap organisme air dan tidak bisa terurai dengan mudah. Tetapi, tidak ada aturan tentang penjualan tekstil yang mengandung residu bahan kimia tersebut.
 
Greenpeace mengatakan 12 dari 27 artikel yang diuji mengandung residu nonylphenol ethoxylates (NPEs). Zat ini bisa terurai menjadi bahan kimia yang mengganggu hormon yang dilepaskan oleh bahan pakaian tersebut dalam proses pencucian.
 
Dari lima pakaian, Grenpeace mengatakan juga menemukan per- dan polyfluorinated chemicals (PFCs) yang digunakan agar pakaian tahan air. Lima artikel yang diuji positif mengandung phthalates, yang digunakan dalam pencetakan desain di pakaian, dan tiga artikel positif mengandung antimony, bahan yang dipakai untuk memproduksi polyester.
 
Bahan-bahan kimia yang diuji Greenpeace biasa digunakan dalam produksi tekstil, tapi sedikit demi sedikit ditinggalkan oleh beberapa merek karena khawatir terhadap dampak polusinya.
 
Kantor berita Reuters tidak dapat mengkonfirmasi penemuan Greenpeace tersebut, yang berusaha diredam oleh dua perusahaan yang disebutkan.
 
Armani mengatakan produk-produknya "sangat aman bagi konsumen" karena telah memenuhi standar internasional yang lebih ketat daripada persayaratan lingkungan UE.
 
Armani mengatakan pihaknya telah berkomitmen untuk menghapuskan semua bahan kimia yang bisa menyebabkan kerusakan lingkungan paling lambat 2020 dan sedang dalam membicarakan hal ini dengan kelompok lingkungan hidup.
 
Louis Vuitton mengatakan semua produknya memenuhi standar lingkungan dan keamanan internasional, termasuk sepatu ballet anak-anak dan sneakers yang diuji Greenpeace positif mengandung PFCs. Louis Vuitton mengatakan kedua produk tersebut mempunyai tingkat konsentrasi yang lebih rendah daripada yang ditetapkan oleh standar internasional.
 
Tapi, Louis Vuitton mengatakan pihaknya juga memiliki keprihatinan yang sama dengan Greenpeace dan mengakui "sifat bahaya intrinsik" dari bahan kimia yang digunakan oleh industri tekstil dan mengatakan pihaknya bekerja keras untuk melalui standar lingkungan yang ada.
 
Hermes, Dolce & Gabbana, Versace, Dior dan Marc Jacobs tidak memberikan komentar.
 
Seorang konsultan industri secara pribadi mengkritik kampanye Greenpeace, tapi menolak bicara di depan umum.
 
Beberapa merek besar menjadi sangat sensitif terhadap pengawasan standar lingkungan mereka karena konsumen menuntut informasi lebih banyak tentang bagaimana pembuatan produk mereka, terutama dengan kehadiran H&M dan Adidas yang menggambarkan produk mereka "ramah lingkungan".
 
Mereka adalah dua di antara 20 merek yang telah dibujuk Greenpeace untuk mengikuti janji "Detox", dibantu oleh pendukung yang mendesak perusahaan-perusahaan tersebut lewat media sosial. Merek-merek mewah yang telah berkomitmen untuk berpartisipasi hanya Burberry dari Inggris dan Valentino dari Italia.
 
Greenpeace mengatakan banyak produk yang dalam penelitian berlabel "Made in Italy", yang merupakan jaminan kualitas, tapi masih mengandung residu kimia serupa seperti yang dibuat di negara-negara berkembang.
 
"Sudah saatnya merek-merek mewah ini bertindak sesuai reputasi mereka sebagai fashion trendsetters, dan mulai memimpin revolusi fashion bebas racun," ujar Chiara Campione, seorang pelaksana kampanye untuk Greenpeace Italia.
 
Banyak peritel pakaian yang telah setuju untuk membuat pakaian mereka bebas PFC tapi beberapa merek barang-barang outdoor mengatakan saat ini tidak ada teknologi bebas PFC yang memberikan tingkat perlindungan cuaca yang sama.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.