Kompas.com - 10/03/2014, 14:55 WIB
Foto Ahmad Imam Al Hafitd (19) dan Assyifa Ramadhani (19), pelaku pembunuhan Ade Sara Angelina Suroto (19), beredar di twitter. Disebutkan, foto ini diambil saat keduanya di Polres Bekasi. Tak ada konfirmasi soal lokasi pengambilan foto tersebut. twitter.Foto Ahmad Imam Al Hafitd (19) dan Assyifa Ramadhani (19), pelaku pembunuhan Ade Sara Angelina Suroto (19), beredar di twitter. Disebutkan, foto ini diambil saat keduanya di Polres Bekasi. Tak ada konfirmasi soal lokasi pengambilan foto tersebut.
|
EditorAsep Candra

KOMPAS.com —
Pola asuh menentukan karakter anak saat sudah dewasa. Dengan pola asuh yang benar, seorang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan penuh pertimbangan, baik terhadap lingkungan maupun dirinya.
 
Namun apa jadinya jika anak mendapat pengasuhan yang salah? Dampaknya dapat dilihat pada kasus pembunuhan Ade Sara Angelina Suroto yang ramai dibicarakan belakangan ini. Dalam kasus ini, korban dibunuh secara keji oleh Ahmad Imam Al Hafitd yang juga mantan pacar korban. Hafitd melakukan pembunuhan terhadap Ade menggunakan alat kejut listrik dengan dibantu oleh pacar barunya, Assyifa Ramadhani.
 
Di mata psikolog Elly Risman, perilaku keji yang ditunjukkan Hafitd dan pacar barunya merupakan indikasi bahwa mereka tidak mendapatkan kasih sayang dan pola asuh yang tepat dari orangtua sejak kecil.
 
“Kemungkinan pelaku banyak menerima bentakan, sindiran, atau perbandingan dari orangtua saat masih kecil. Akibatnya, pelaku mencari cara menetralkan perasaan buruk yang timbul, dengan berbagai hal yang sebenarnya berdampak negatif bagi dirinya,” kata psikolog Elly Risman pada KOMPAS Health, Minggu (9/3/2014).
 
Proses menetralkan perasaan, kata Elly, bisa dengan berbagai cara antara lain menonton video kekerasan, bermain game, hingga melakukan bully.
 
Perpaduan keduanya, lanjut Elly, berefek buruk pada proses perkembangan anak. Perpaduan keduanya juga merusak area otak yang berada di atas alis mata bagian kanan, yang disebut cortex.
 
Padahal, bagian ini menentukan kontrol diri, emosi, dan menimbang berbagai dampak perbuatan dirinya pada orang lain. Bagian ini pula yang membedakan manusia dengan mamalia lainnya.
 
“Kalau cortex sudah rusak maka cara kerja otak menjadi salah, atau oleh peneliti Dean Belnap kerap disebut the brain gone wrong. Mereka tidak bisa membedakan akibat perbuatannya pada orang lain. Emosi pribadi yang dirasakan akan jauh lebih menguasai,” kata Elly.
 
Emosi tersebut harus dipuaskan dengan berbagai cara yang didapat lewat video kekerasan.
 
Rusaknya cortex bisa dicegah dengan menyesuaikan pola asuh dengan cara kerja otak. Bila otak lebih menyukai rasa senang, gembira, dan nyaman, maka emosi itulah yang harus timbul saat pengasuhan. Bila emosi yang timbul sebaliknya, maka otak tidak bisa berkembang dengan sempurna.
 
Karena itu, orangtua harus menghindari kata-kata kasar, sindiran, bentakan, atau perbandingan negatif selama pengasuhan. Dengan menghindari kata-kata tersebut, anak tidak perlu melakukan hal negatif untuk menetralkan perasaan buruk yang timbul. Dengan meminimalkan paparan negatif selama perkembangannya, maka peluang anak mempelajari berbagai karakter positif semakin besar.
 
Tentunya bukan hal sulit untuk mengasuh anak dengan cara yang benar. “Orangtua harus sadar anaknya tumbuh dalam berbagai ancaman. Selanjutnya orangtua harus memutus mata rantai pengasuhannya yang buruk di masa lalu. Bila orangua diasuh penuh kekerasan, bukan berarti anak harus mengalami hal yang sama,” ujar Elly.
 
Elly juga menyarankan orangtua mau belajar teknologi dan gadget terbaru. Dengan pengetahuan yang sama, maka orangtua bisa menjadi lawan bicara yang seimbang dengan anak. Hal ini sekaligus mencegah anak terkena paparan negatif dunia maya.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Saja Penyebab Penyakit Ginjal?

Apa Saja Penyebab Penyakit Ginjal?

Health
Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Health
Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Health
Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Health
10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

Health
Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Health
Sindrom Steven-Johnson

Sindrom Steven-Johnson

Penyakit
Kenali 4 Faktor Risiko Leukimia

Kenali 4 Faktor Risiko Leukimia

Health
Apa Manfaat dan Efek Samping Suntik Vitamin C?

Apa Manfaat dan Efek Samping Suntik Vitamin C?

Health
Bagaimana Cara Hadapi Orang Bertendensi Bunuh Diri?

Bagaimana Cara Hadapi Orang Bertendensi Bunuh Diri?

Health
Apa Penyebab Kulit Kering?

Apa Penyebab Kulit Kering?

Health
4 Cara Mudah Mengatasi Sembelit

4 Cara Mudah Mengatasi Sembelit

Health
8 Cara Mengatasi Sakit Kepala saat Kepanasan

8 Cara Mengatasi Sakit Kepala saat Kepanasan

Health
Sindrom Asperger

Sindrom Asperger

Penyakit
Seberapa Sering Normalnya Kita Harus Buang Air Besar?

Seberapa Sering Normalnya Kita Harus Buang Air Besar?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.