3 Bahan Pangan Pencuri Energi

Kompas.com - 14/06/2014, 12:30 WIB
Ilustrasi shutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Mereka ada di mana-mana. Di dalam deretan rak di supermarket, di gerai kopi favorit, atau di laci meja kantor Anda. Ironisnya, makanan ini sebenarnya merupakan pemicu energi instan, tetapi tak lama kemudian kita sudah lapar lagi dibuatnya.

Naik turunnya energi dengan cepat ini bisa membuat kita merasa gugup, kehabisan energi, sulit berpikir, bahkan tidak mood.

Kenali apa saja bahan makanan yang bisa menghisap habis energi Anda dan belajarlah untuk mulai membatasinya.

Tepung (Gluten)
Gluten adalah protein yang secara alami kita temukan di banyak sumber karbohidrat, seperti tepung gandum, berley, dan rye. Banyak orang mengalami reaksi abnormal pada gluten, terutama mereka yang fungsi pencernaannya tidak normal.

Gluten juga diketahui memengaruhi kadar gula darah sehingga kita mudah kehabisan energi. Kadar gluten paling tinggi ditemukan pada karbohidrat yang sudah disuling berulang kali, misalnya roti putih atau tepung.

Gula
Tubuh kita sebenarnya sudah memiliki gula yang disebut juga dengan glukosa atau gula darah. Glukosa ini sangat penting untuk organ-organ vital, terutama otak. Jika kadar gula darah terlalu rendah, ktia akan merasa sangat lelah, sulit konsentrasi, bahkan akan merasa sangat ingin makan banyak gula untuk mengembalikan keadaan.

Sebaliknya, kadar gula darah yang terlalu tinggi akan membuat kita merasa pusing, tidak nyaman, dan juga lelah. Yang menarik, gejala kadar gula darah tinggi dan kadar gula darah rendah terkadang hampir mirip.

Oleh karena itulah kita perlu mengendalikan asupan gula dari makanan. Gula darah yang naik turun terlalu cepat dalam jangka panjang akan membuat tubuh tak mampu lagi menyimpan gula dengan baik sehingga organ pankreas menjadi rusak.

Kafein
Saat kita merasa malas di pagi hari, secangkir kopi mungkin merupakan pemacu semangat yang paling efektif. Ini karena kafein adalah stimulan. Ia akan merangsang kelenjar adrenal sehingga kita masuk dalam respon "melawan" atau "melarikan diri", yang akan melepaskan hormon stres.

Karena hormon stres ini akan memecah energi, ini akan menyebabkan gula darah naik. Makin banyak kafein dikonsumsi, skenario ini akan terus berulang. Apalagi jika kita terbiasa minum kopi dengan tambahan gula.

Yang perlu diingat, apa yang naik pasti akan turun. Rasa awas dan energi yang meningkat setelah minum kafin akan diikuti dengan penurunan kadar gula darah. Sebagian orang akan menjawabnya dengan minum kafein lagi. Demikian siklus ini akan berulang. Faktanya, semakin lama kondisinya akan semakin memburuk.


Sumber askmen
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X