Cegah Anak Kecanduan "Games", Kuncinya pada Orangtua

Kompas.com - 01/07/2014, 13:32 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
Penulis Nadia Zahra
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com -
Permainan online games kini semakin akrab dimainkan anak. Selain melalui tablet, permainan game online juga mudah ditemui di warung internet (warnet). Anak-anak bisa betah duduk berjam-jam memainkan video game tersebut. Efek grafis, animasi suara, dan interaksi dengan pemain lain memang menyenangkan.

Ali, bocah berusia 12 tahun, termasuk dalam anak yang sering menghabiskan waktunya di warnet. Saat ditemui di sebuah warnet di kawasan Pondak Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, ia mengaku menyukai online games Warcraft Dota sejak 6 bulan lalu.

"Memang susah-susah gampang, sih, eh jadi ketagihan. Setiap pulang sekolah nyempetin main ke sini," katanya.

Ali tidak sendirian, Senin (30/6/14) siang itu ada sekitar 10 anak yang tenggelam dalam keasyikannya bermain games di warnet tersebut. Fikri (15), anak lain, mengaku kuat bermain hingga 8 jam di warnet tersebut.

Kompetisi untuk mengumpulkan skor setinggi-tingginya, ditambah teknik untuk mengalahkan lawan, permainan video games bisa menimbulkan kesenangan dan lama kelamaan kecanduan.

Sudah bisa ditebak, kecanduan bermain games menyebabkan banyak efek negatif. Selain membuat anak jadi malas bergerak, enggan belajar, berjam-jam bermain game bisa membuat anak meniru apa yang dilihatnya. Sayangnya, games yang populer di kalangan anak dan remaja adalah jenis permainan yang sarat adegan kekerasan, seperti perkelahian atau tembak-menembak.

"Apa pun yang menimbulkan ketergantungan atau kecanduan, termasuk games online, sudah memperalat anak itu sendiri," kata psikolog dan pemerhati anak, Seto Mulyadi, ketika dihubungi Kompas.com (30/6/14).

Ia menambahkan, sebenarnya video games juga bisa memberikan efek positif, yakni ketangkasan strategi, kecepatan reaksi, dan mengasah kreativitas. "Anak juga jadi mengikuti perkembangan teknologi, yaitu gadget dan internet. Anak juga jadi luwes berkomunikasi dengan sesamanya, bahkan lintas negara," katanya.

Meski demikian, Seto menekankan peran orangtua dalam mengontrol dan mengawasi anaknya. "Anak-anak masih butuh bimbingan orangtua karena mereka belum mengetahui segara dampak dari apa yang dilakukannya," katanya.

Anak mendapatkan perangkat permainan video games tentu dari orangtuanya, begitu pula jika mereka akan bermain games di warnet tentu harus memiliki uang untuk membayar. Karena itu orangtua perlu menetapkan aturan kapan anak boleh bermain dan durasi waktunya. Jangan membebaskan anak bermain games karena anak belum memiliki pengendalian diri.

"Ciptakan situasi yang kondusif di rumah agar anak nyaman di rumah dan merindukan orangtuanya saat di luar rumah. Kalau bisa, ayah dan ibu luangkan waktu sejenak untuk bermain komputer atau laptop secara bersama-sama. Ciptakan keakraban di rumah," ujarnya.

Jangan sampai anak tidak betah dengan kondisi di rumah. "Bisa saja tempat-tempat negatif menjadi pelarian bagi si anak tersebut untuk menuntaskan rasa kesenangannya," katanya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X