Kompas.com - 14/08/2014, 09:31 WIB
Ilustrasi berolahraga. ShutterstockIlustrasi berolahraga.
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Orang yang pernah mengalami serangan jantung disarankan untuk berolahraga rutin untuk memperbaiki kesehatan jantungnya. Namun sebuah studi mengungkapkan, ada batasan tertentu bagi mereka untuk mendapatkan hasil yang optimal.

"Berolahraga lebih banyak bukan berarti lebih baik bagi mereka," ujar peneliti studi Paul Williams, peneliti di Lawrence Berkeley National Laboratory, California, AS.

Williams dan timnya menganalisis sekitar 2.400 orang yang pernah mengalami serangan jantung untuk pola olahraga yang mereka lakukan. Studi jangka panjang itu mengikuti peserta yang melakukan olahraga berlari dan berjalan kurang lebih selama 10 tahun. Umumnya, peningkatan porsi olahraga mengurangi risiko meninggal karena penyakit jantung hingga 65 persen.

Namun berlari lebih dari 48,2 kilometer (km) atau berjalan lebih dari 74 km per minggunya justru akan memberikan dampak yang sebaliknya. Peneliti mengungkapkan, porsi olahraga tersebut justru dapat melipatgandakan risiko serangan jantung. Dalam periode studi ini, 526 peserta meninggal, hampir tiga perempatnya dikarenakan serangan atau penyakit jantung.

Karena studi ini terbatas untuk orang yang pernah mengalami serangan jantung, maka Williams belum dapat memastikan hasil temuan ini dapat diaplikasikan bagi seluruh orang dewasa sehat, khususnya yang hobi berolahraga berlebihan.

Sementara itu, olahraga berlebihan pada orang yang pernah mengalami serangan jantung cukup jarang terjadi. Dari seluruh peserta studi, hanya 6 persen yang mencapai ambang batas yang ditetapkan peneliti tersebut. Pada mayoritas peserta, meningkatkan porsi olahraga dalam batas moderat mengurangi risiko kematian yang terkait dengan penyakit jantung.

Carl Lavie, direktur medis rehabilitasi dan preventif jantung di John Ochsner Heart and Vascular Institute, mengatakan, studi ini menunjukkan, orang tidak perlu melakukan terlalu banyak olahraga untuk mendapat manfaat optimal, khususnya untuk memperbaiki kesehatan jantung.

Para pakar sepakat, rekomendasi 150 menit latihan intensitas moderat dan 75 menit latihan intensitas berat dalam seminggu sudah cukup bagi setiap orang secara umum.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber HEALTHDAY
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Benarkah Ibu Menyusui Tak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Benarkah Ibu Menyusui Tak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Health
Sindrom Zollinger-Ellison (ZES)

Sindrom Zollinger-Ellison (ZES)

Penyakit
Benarkah Susu Sapi Ampuh Redakan Gejala Heartburn?

Benarkah Susu Sapi Ampuh Redakan Gejala Heartburn?

Health
Limfangitis

Limfangitis

Penyakit
Terlihat Sama, Ini Beda Depresi dan PTSD

Terlihat Sama, Ini Beda Depresi dan PTSD

Health
Penyakit Jantung Rematik

Penyakit Jantung Rematik

Penyakit
3 Cara Mengatasi Bayi Sungsang secara Alami dan Medis

3 Cara Mengatasi Bayi Sungsang secara Alami dan Medis

Health
Pahami 5 Gejala Awal Kanker Usus

Pahami 5 Gejala Awal Kanker Usus

Health
6 Gejala Asam Urat di Lutut

6 Gejala Asam Urat di Lutut

Health
Karsinoma Sel Skuamosa

Karsinoma Sel Skuamosa

Penyakit
10 Penyebab Sakit Perut Bagian Atas

10 Penyebab Sakit Perut Bagian Atas

Health
Rahim Turun

Rahim Turun

Penyakit
6 Jenis Gangguan Pola Tidur dan Cara Mengatasinya

6 Jenis Gangguan Pola Tidur dan Cara Mengatasinya

Health
Herniasi Otak

Herniasi Otak

Penyakit
Sering Menjadi Faktor Risiko Utama, Apa Kaitan Bipolar dan Genetik?

Sering Menjadi Faktor Risiko Utama, Apa Kaitan Bipolar dan Genetik?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.