Kompas.com - 18/10/2014, 16:10 WIB
Ilustrasi lari Ilustrasi lari
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Berlari kian digemari masyarakat di perkotaan yang ingin menjaga kebugaran di tengah padatnya rutinitas kerja. Selain mudah dilakukan, olahraga itu hanya butuh pakaian nyaman dan sepatu olahraga. Agar bugar dan tak cedera, pemilihan sepatu dan teknik berolahraga jadi hal penting bagi mereka yang ingin berlari.

Aktris peran dan pembawa acara Olga Lydia (37), yang rutin berolahraga lari selama dua tahun terakhir, mengatakan tak ada persiapan khusus jika akan berlari, termasuk baju dan sepatu. Ia biasa berlari pagi di akhir pekan pada ajang hari tanpa kendaraan bermotor. ”Saya menghabiskan waktu 30-40 menit untuk lari sejauh 5 kilometer,” ujarnya.

Namun, karena aktivitas padat, ia tak berolahraga lari selama hampir sebulan terakhir. ”Badan jadi lebih fit dan fresh kalau berlari. Agak sayang juga beberapa waktu ini belum lari lagi. Mau ikut lomba Jakarta Marathon saja batal,” kata Olga.

Baam (25), karyawan swasta dan mahasiswa magister jurusan informatika sebuah universitas swasta, juga rajin berolahraga lari di kawasan Kemang dan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada sore atau malam. ”Selain keluarga senang olahraga, saya lari untuk refreshing setelah capek bekerja,” kata Baam, Sabtu (4/10) petang, saat ditemui seusai berlari.

Saat berlari, ia tak membawa terlalu banyak atribut. Hanya perangkat pakaian yang nyaman dikenakan, sepasang sepatu lari, dan perangkat untuk mendengarkan musik. ”Kalau sepatu dan pakaian, saya mementingkan kenyamanan,” katanya sambil menunjukkan pakaiannya.

Sore itu, ia mengenakan kaus oblong berlapis jaket berbahan parasut, celana pendek, dan sepatu lari. ”Untuk sepatu, saya pilih yang cocok di kaki. Karena kaki saya agak lebar, jadi pilih model agak lebar. Kalau enggak begitu, nanti sakit,” ucap Baam.

Sementara itu, Metty (23), karyawan sebuah perusahaan penjualan perangkat telekomunikasi, mulai membiasakan lari sejak bekerja. Pekerjaan di bidang keuangan menuntut Metty menghabiskan sembilan jam duduk di depan komputer.

”Rasanya badan jadi cepat lelah. Akhirnya saya coba lari. Biasanya lari pagi di GOR Ragunan sama Papa,” kata perempuan yang berdomisili di Ampera, Jakarta Selatan, itu. Saat berolahraga, ia mengenakan pakaian yang nyaman di tubuh dan sepatu yang cocok di kaki agar tak cepat pegal.

Merek bukan jaminan

Menurut fisioterapis dan praktisi lari Monica Kumalasari, kriteria menentukan sepatu lari adalah memperhatikan bentuk lekukan kaki. ”Sebelum memilih dan mencoba sepatu, kita harus tahu dulu bentuk lekukan kaki kita seperti apa,” ujarnya.

Karena itu, ia tak menyarankan membeli sepatu hanya berdasarkan merek dan model. Sebab, merek sepatu premium belum tentu cocok dengan semua jenis lekukan kaki. Orang yang telapak kakinya cenderung rata harus memilih sepatu dengan pijakan rata. Sebaliknya, orang dengan telapak kaki melengkung sebaiknya memilih sepatu dengan pijakan mengikuti lengkung kaki.

Ia memberi contoh pengalamannya membeli sepatu merek premium. Ketika sepatu itu dipakai, ia justru selalu merasa sakit di bagian kaki. Rasa nyeri itu baru berhenti ketika ia memakai sepatu merek lain.

Bukan sekadar rasa sakit, salah memilih sepatu juga bisa menyebabkan cedera, seperti cedera tumit dan pegal. ”Kalau pegal di kaki dibiarkan bisa menjalar hingga betis dan lutut, bahkan sampai pinggang. Untuk menyembuhkannya butuh waktu lama,” kata Monica.

Sementara itu, Denny Mayer, anggota komunitas lari Chubby Runners, yang setahun terakhir menekuni olahraga lari mengatakan, salah memilih sepatu bisa memicu cedera, seperti runner’s knee. Cedera itu menimbulkan rasa sakit seperti tertusuk pisau di bawah lutut. Cedera lain yang bisa timbul adalah sakit di tulang kering.

Selain pemilihan sepatu, gaya lari pun bisa menyebabkan cedera. Kepala Bidang Kesehatan Olahragawan Nasional Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Kesehatan Olahraga Nasional Kementerian Pemuda dan Olahraga I Nyoman Winata mengatakan, orang yang akan berolahraga lari sebaiknya lebih dulu memeriksakan kondisi kesehatannya.

”Kalau baru sembuh, kerap sakit di dada, atau kena hipertensi, misalnya, lebih baik jangan berlari dulu,” kata Nyoman yang juga dokter spesialis kedokteran olahraga. Kemampuan lari awal seseorang umumnya 60 persen dari denyut nadi maksimal. Cara mengukur denyut maksimal adalah 220 dikurangi usia. Kemampuan itu bisa ditingkatkan, tetapi butuh waktu bertahap.

Waktu lari

Menurut Nyoman, tak ada pengaruh khusus terkait waktu lari, baik pagi atau malam. Sebab, lari malam justru jadi kompensasi bagi mereka yang sulit menemukan waktu berlari pagi.

”Yang penting bagaimana si pelari itu menyiasati situasi. Kalau malam berebut oksigen dengan pepohonan, mereka bisa cari area yang tak banyak tanaman,” kata Nyoman. Hal terpenting adalah mencari aktivitas yang membuat badan bergerak.

Orang yang berolahraga lari disarankan tak terburu-buru saat berlari atau tergesa-gesa memperbaiki catatan waktu. Jika terburu-buru menambah catatan waktu, hal itu berisiko menimbulkan cedera dan mengurangi kenikmatan berlari.

Dalam memoarnya, What I Talk about When I Talk about Running (Yang Saya Bicarakan Saat Berbicara tentang Lari), novelis Jepang Haruki Murakami yang menekuni olahraga lari mengatakan, setiap pelari biasa (non-atlet) termotivasi oleh tujuan individual.

Bahkan, saat gagal mencapai waktu terbaik, selama ia puas dengan dirinya sendiri—merasa menemukan sesuatu yang baru dalam dirinya—itu menjadi pencapaian tersendiri dan bekal saat ia akan kembali berlari. (A01)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber KOMPAS
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Picu Kematian Mendadak, Ini Penyebab Henti Jantung di Usia Muda

Picu Kematian Mendadak, Ini Penyebab Henti Jantung di Usia Muda

Health
Makanan Terbaik dan Terburuk untuk Penderita Diabetes, Apa Saja?

Makanan Terbaik dan Terburuk untuk Penderita Diabetes, Apa Saja?

Health
Apakah Saat Demam Boleh Mandi?

Apakah Saat Demam Boleh Mandi?

Health
11 Makanan dan Minuman yang Pantang untuk Penderita Diabetes

11 Makanan dan Minuman yang Pantang untuk Penderita Diabetes

Health
Waspadai, Berat Badan Turun Drastis Bisa Jadi Tanda Diabetes

Waspadai, Berat Badan Turun Drastis Bisa Jadi Tanda Diabetes

Health
Cara Mengatasi Bisul di Bokong

Cara Mengatasi Bisul di Bokong

Health
5 Obat Batuk Anak Alami yang Aman dan Praktis

5 Obat Batuk Anak Alami yang Aman dan Praktis

Health
Apa Perbedaan Vegetarian dan Vegan?

Apa Perbedaan Vegetarian dan Vegan?

Health
4 Tanda Diabetes yang Sering Tak Disadari

4 Tanda Diabetes yang Sering Tak Disadari

Health
8 Makanan yang Dapat Menyehatkan kulit

8 Makanan yang Dapat Menyehatkan kulit

Health
Mengapa Diabetes Dapat Menyebabkan Nyeri Sendi?

Mengapa Diabetes Dapat Menyebabkan Nyeri Sendi?

Health
4 Cara Untuk Menstimulasi dan Mempercepat Proses Persalinan

4 Cara Untuk Menstimulasi dan Mempercepat Proses Persalinan

Health
Splenomegali

Splenomegali

Penyakit
4 Faktor Risiko Penyakit Jantung

4 Faktor Risiko Penyakit Jantung

Health
Orkitis

Orkitis

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.