Kompas.com - 17/12/2014, 13:59 WIB
Larangan donasi sel telur dan sperma bagi pasangan tak subur di Italia berlaku sejak 2004. BBCLarangan donasi sel telur dan sperma bagi pasangan tak subur di Italia berlaku sejak 2004.
|
EditorLusia Kus Anna


KOMPAS.com
 — Masalah pada sperma menjadi salah satu faktor ketidaksuburan yang paling banyak dialami pasangan suami istri (pasutri). Kualitas sperma yang buruk akan sulit membuahi sel telur. Hal ini bisa membuat pasutri sulit mendapat keturunan meski telah lebih dari satu tahun rutin berhubungan seksual.

"Sebagian besar pasangan mengalami gangguan kesuburan karena sperma. Jadi, paradigmanya harus diubah. Nomor satu yang harus diperiksa adalah laki-laki dulu," ujar Konsultan Fertilitas dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Budi Wiweko, dalam diskusi di Jakarta, Selasa (16/12/2014).

Budi menjelaskan, kualitas sperma yang buruk bisa disebabkan oleh faktor genetik dan gaya hidup tidak sehat, seperti merokok. Kualitas sperma yang buruk, misalnya, terlalu cair atau tidak kental dan kelainan bentuk. Kelainan bentuk misalnya tidak memiliki ekor sehingga membuat sel sperma sulit berenang menuju sel telur.

Masalah lainnya adalah jumlah sperma yang sedikit, yaitu hanya di bawah 5 juta per cc. Bahkan, ada pria yang tidak menghasilkan sel sperma. Normalnya, seorang pria memproduksi sperma lebih dari 15 juta per cc.

"Kalau sperma nol atau tidak ada sama sekali bisa dioperasi. Sperma akan diambil dari buah zakar," ujar dokter spesialis obstetri dan ginekologi ini.

Namun, jumlah sperma yang cukup banyak belum pasti terjadi pembuahan, jika tidak dibarengi kualitas sperma yang baik. Sperma pun dikatakan baik apabila memiliki gerakan yang normal, yaitu bergerak cepat dan maju lurus. Ada pula gerakan lambat dan sulit maju lurus, bergerak di tempat tanpa maju, atau tidak bergerak sama sekali.

Untuk menjaga kualitas sperma, pria juga sebaiknya menjauhkan organ vitalnya itu dari udara panas. "Hindari terlalu lama berendam di air hangat, memangku laptop, karena suhu testis harus lebih rendah dari suhu tubuh," kata Budi.

Selain gaya hidup, masalah pada sperma juga bisa berasal dari "pabrik" sperma atau testis. Misalnya, testis terkena penyakit seperti virus atau infeksi.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X