Kompas.com - 05/03/2015, 09:00 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com -
Ada pesan positif dalam pepatah lama yang menyebutkan ‘Sarapan seperti raja, makan siang seperti seorang pangeran, dan makan malam seperti pengemis’. Yang paling kentara adalah porsi utama pada sarapan. Ya, sarapan tidak boleh dilewatkan dan porsinya harus cukup besar sebagai energi untuk menjalani hari. 

Pepatah tersebut pun dapat diadopsi oleh diabetesi. Studi terbaru menunjukkan diabetesi yang menyantap sarapan besar serta makan malam dengan porsi kecil mengalami sedikit episode untuk gula darah yang tinggi dibandingkan yang melakukan hal sebaliknya. 
 
Gula darah, disebut juga sebagai glukosa darah, dikontrol oleh jam internal tubuh. "Dengan kadar glukosa darah mencapai puncaknya setelah makan malam,” ujar Dr. Daniela Jakubowicz. 
 
Sayangnya, mereka dengan diabetes tipe 2, dikatakan  Dr. Jakubowicz, kerap menetapkan waktu makannya berlawanan dengan jam internal tubuh. “Mereka sering melewatkan sarapan, sementara di malam hari mengonsumsi makanan tinggi kalori. Tidak sarapan ini hanya akan membuat kontrol gula darah menjadi jelek,” lanjut periset dari  Tel Aviv University’s Wolfson Medical Center, Israel
 
Studi melibatkan 8 pria dan 10 perempuan dengan diabetes tipe 2 berusia 30-70 tahun. Mereka mendapat pengobatan baik dengan obat diabetes metformin serta anjuran makan atau anjuran diet saja. 
 
Secara acak, mereka menjalani rencana makan terdiri dari sarapan 700 kalori serta makan malam 200 kalori atau sebaliknya. Keduanya juga menyantap makan siang sebesar 600 kalori. 
 
Tim periset menjumpai bahwa partisipan yang mengonsumsi sarapan porsi besar dan makan malam dengan porsi kecil, kadar glukosa pasca makannya 20 persen lebih rendah dan kadar insulin 20 persen lebih tinggi. 
 
“Studi ini menunjukkan bahwa sarapan besar dan mengurangi porsi makan malam bisa menjadi pilihan bermanfaat dalam mengelola keseimbangan glukosa sepanjang hari. Dan dapat dipertimbangkan sebagai strategi terapetik pada diabetes tipe 2,” urai Dr. Jakubowicz yang penelitiannya dipublikasikan dalam Diabetologia
 
Namun, hasil studi ini, seperti dikatakan Anna Taylor, dietisi di Cleveland Clinic, Ohio, kemungkinan belum bisa diaplikasikan pada kelompok lain dengan diabetes. Diabetesi yang menggunakan insulin disarankan untuk berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter yang merawat sebelum melakukan penyesuaian makan ini. 
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Reuters

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.