Kompas.com - 23/04/2015, 16:07 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com  Pemberian vaksin sangat penting untuk mencegah anak terserang penyakit. Sayangnya, masih ada pihak yang enggan memberikan anak mereka vaksin karena berbagai alasan.

Saat ini masih ada sekitar 22 juta bayi di dunia yang belum mendapat imunisasi dasar lengkap dan sebesar 9,5 juta terdapat di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Dokter Spesialis Anak Piprim Basarah Yanuarso mengatakan, rendahnya anak yang mendapat vaksin disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya yang paling berpengaruh yaitu beredarnya informasi yang salah, bohong, atau hoax mengenai imunisasi.

"Banyak beredar hoax tentang vaksin. Informasi yang salah itu misalnya mereka menganggap mencegah penyakit dengan vaksin itu enggak penting, hingga vaksin mengandung babi dan tidak ada label halal," terang Piprim dalam diskusi Pekan Imunisasi Dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis (23/4/2015).

Ada pula yang takut anaknya justru menjadi sakit setelah imunisasi. Informasi hoax lainnya, yaitu vaksin MMR dapat menyebabkan anak menjadi autis.

Piprim mengatakan, informasi hoax tersebut tidak pernah terbukti secara ilmiah. Sementara vaksin telah dibuktikan dengan ilmiah, bahkan terbukti menurunkan kejadian luar biasa penyakit pada anak, seperti polio, difteri, dan campak.

Menurut Piprim, informasi salah mengenai vaksin sering kali berasal dari tulisan di blog atau testimoni kisah pribadi yang kemudian disebar di media sosial. Padahal, tulisan ataupun ucapan tersebut bisa dilakukan oleh siapa saja dan tidak berdasarkan bukti ilmiah. Bahkan, pernah muncul gerakan antivaksin di Indonesia.

Piprim mencontohkan, pada tahun 2010 pernah ada demo "Stop Vaksinasi Indonesia, Selamatkan Anak Indonesia". Kemudian muncul buku-buku antivaksin dengan pendekatan ideologi. Ada pula seminar antivaksin yang sangat memengaruhi orangtua untuk tidak memberikan vaksin pada anak.

Piprim mengungkapkan, setelah adanya seminar antivaksin tahun 2012 di Sumatera Barat, imunisasi dalam dua tahun setelahnya menurun drastis, yaitu dari 93 persen menjadi 35 persen. Akibatnya, kasus difteri justru meningkat dan dua anak meninggal karena tidak divaksinasi.

"Tidak ada satu pun ulama yang melarang vaksin. MUI pun menyebut vaksin itu halal dan baik. Kalau banyak yang galau karena kelompok antivaksin merajalela, kemudian cakupan anak yang divaksin di bawah 60 persen, wabah bisa bermunculan kembali," terang Piprim.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.