Kompas.com - 18/05/2015, 16:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS — Penyakit kardiovaskular terkait jantung dan pembuluh darah, terutama stroke dan jantung koroner, tidak hanya milik warga kota besar. Prevalensi penyakit mematikan tertinggi di Indonesia itu, serta penyakit tidak menular lain, seperti diabetes melitus, hipertensi, dan kanker, merata hingga kota kecil di banyak daerah.

 Data Kementerian Kesehatan 2013 yang diolah Divisi Litbang Kompas menunjukkan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, memiliki sebaran (prevalensi) kasus stroke tertinggi di Indonesia dengan persentase 66,6 persen. Adapun prevalensi tertinggi jantung koroner ada di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, dengan persentase 15,5 persen, sedangkan Manggarai Timur prevalensi tertinggi diabetes, 19,2 persen.

Prevalensi hipertensi tertinggi ada di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dengan persentase 43,6 persen dan paru-paru tertinggi ada di Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, dengan persentase 35,8 persen, sedangkan prevalensi kanker tertinggi di Sleman, DI Yogyakarta, dengan 6,1 kasus per 1.000 penduduk.

Sementara itu, analisis awal Sample Registration Survey (SRS) 2014—survei kematian skala nasional terhadap 41.590 kematian sepanjang 2014—yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan menunjukkan, stroke dan jantung penyebab kematian pertama dan kedua di Indonesia sepanjang 2014. Persentasenya, masing-masing 21,1 persen dan 12,9 persen.

Kepala Balitbangkes Tjandra Yoga Aditama mengatakan, Indonesia menghadapi beban ganda penyakit, kondisi ketika penyakit menular belum terkendali penuh dan penyakit tidak menular terkait gaya hidup cenderung meningkat pesat dan jadi pembunuh nomor satu. ”Transisi epidemiologi sedang terjadi,” ujar Tjandra, Sabtu (16/5), di Jakarta.

Tahun 1990-an, kata Tjandra, stroke menempati posisi keempat penyebab kematian. Tahun 2014, peringkat pertama. Adapun penyakit jantung dan pembuluh darah yang pada tahun 1990-an di luar 10 besar penyebab kematian, tahun 2000-an jadi pembunuh kelima dan tahun 2014 penyebab kematian kedua.

shutterstock Ilustrasi

Faktor penyebab

Perubahan pola penyakit terjadi seiring perubahan status sosial ekonomi, gaya hidup, dan meningkatnya usia harapan hidup. Interaksi berbagai faktor risiko, seperti rendahnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, asupan gizi tak seimbang, dan konsumsi alkohol kian mempercepat terjadinya penyakit tidak menular.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan DI Yogyakarta Daryanto Chadorie mengatakan, masyarakat Yogyakarta terbiasa mengonsumsi makanan manis dan minim konsumsi sayur dan buah. Kebiasaan itu berisiko menimbulkan penyakit tidak menular.

Di banyak daerah, makanan dan minuman berkadar gula dan garam tinggi kian mudah dijumpai. Gerai-gerai minimarket buka hingga lewat tengah malam.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.