Kompas.com - 01/07/2015, 19:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Sebagai jenis kanker yang paling banyak didiagnosis di dunia, ada 1,8 juta kasus di tahun 2012, kanker paru juga termasuk penyakit penyebab kematian utama di dunia.

Kanker paru menjadi pembunuh nomer satu karena banyak diderita dibandingkan jenis kanker lainnya. Selain itu, angka kelangsungan hidupnya juga rendah. Hanya 17 persen pasien kanker paru yang bisa bertahan hidup sampai 5 tahun. Statistik tersebut belum berubah dalam satu dekade ini.

Angka kematian akibat kanker payudara terus menurun sejak tahun 1989, terutama karena terapi pengobatan yang lebih baik dan deteksi dini melalui mamografi.

Sebaliknya dengan kanker paru yang sulit didiagnosis karena kita tak bisa melihat atau merasakan paru-paru. Cara utama mendeteksi kanker ini adalah melalui gejalanya, yakni batuk atau nyeri. Tapi seringkali gejalanya baru muncul saat kankernya sudah mencapai stadium lanjut.

Walau begitu, sebenarnya sama seperti kanker payudara, kolon atau kanker lainnya, 80 persen kanker paru yang dideteksi saat stadium 1 bisa diobati dengan operasi atau radiasi.

Dengan demikian cara terbaik untuk meningkatkan angka harapan hidup pasien adalah dengan mendeteksi penyakit ini sejak awal. Melakukan penapisan (screening) kanker paru dengan CT scan paru dosis rendah terbukti mampu mendeteksi kanker di stadiun awal dan menurunkan kematian sampai 20 persen.

Hal itu dibuktikan pada orang berusia 55-75 tahun yang merokok 30 dus pertahun dan telah berhenti merokok kurang dari 15 tahun.

Di Amerika, pemeriksaan CT scan paru sudah termasuk dalam asuransi, namun belum bisa dipraktikkan di dunia. Padahal, jika pemeriksaan ini bisa dilakukan secara luas seperti halnya pada payudara dan leher rahim, angka kematian akibat kanker paru bisa ditekan.

Di luar pemeriksaan kondisi paru, kesuksesan kampanye bahaya rokok juga akan berdampak pada angka kematian akibat kanker paru. Sebagai contoh di AS, penurunan jumlah perokok berdampak pada angka kematian pria sejak tahun 1991 dan pada wanita sejak tahun 2003.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.