Kompas.com - 25/08/2015, 15:11 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorBestari Kumala Dewi

Oleh ADHITYA RAMADHAN

KOMPAS.com - Sejak tahun 1997 program nasional imunisasi hepatitis B dilaksanakan, tetapi hingga kini cakupannya rendah. Akibatnya, kasus hepatitis B masih tinggi. Padahal, imunisasi jadi kunci dalam memutus mata rantai penularan hepatitis B dari ibu kepada anak yang dikandungnya untuk mencegah penyebaran virus hepatitis.

 

Kasus penularan hepatitis B dari ibu kepada bayi yang dikandung di Tanah Air terus terjadi. Salah satu penyebabnya ialah penderita tak tahu telah terinfeksi virus tersebut. Ida (47), penderita hepatitis B, misalnya, menuturkan, saat hamil anak keduanya pada tahun 2000, ia disarankan memeriksakan diri lebih lanjut oleh dokter di Rumah Sakit Harapan Kita, tempat dia berobat. Sebab, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan ada kelainan pada darah.

 

Namun, karena tak merasakan gejala apa pun, merasa repot kalau harus periksa, dan biaya pemeriksaan mahal, Ida yang tinggal di Ciledug itu tak memeriksakan dirinya. Ia juga tak begitu ingat apakah anak keduanya saat lahir mendapat imunisasi hepatitis B.

 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ida baru memperhatikan kesehatannya setelah mendapat surat dari Palang Merah Indonesia seusai ikut donor darah. Surat itu merekomendasikan dirinya agar tak donor darah dan segera menjalani pemeriksaan. Lalu ia membawa semua dokumen catatan kesehatannya ke dokter umum. Dari situ, ia didiagnosis hepatitis B.

 

Hasil pemeriksaan memakai fibroscan menunjukkan, ia memasuki fase awal sirosis hati. Organ hatinya mulai mengeras. "Ibu saya dulu meninggal karena lever, entah hepatitis B atau C. Ayah saya juga sama. Kemungkinan ayah tertular dari ibu karena saudara ibu juga ada yang sakit hepatitis," ujarnya.

 

Setelah kedua anaknya diperiksa, anak pertama Ida yang berusia 18 tahun positif terinfeksi hepatitis B. Meski tak ada obat yang harus diminum, anaknya mesti rutin memeriksakan kesehatan organ hatinya.

 

Peradangan sel hati

 

Hepatitis merupakan peradangan sel-sel hati akibat infeksi (virus, bakteri, atau parasit), obat-obatan, konsumsi alkohol, lemak berlebihan, dan penyakit autoimun. Transmisi vertikal dari ibu hamil positif hepatitis ke janin yang dikandung jadi cara penularan hepatitis B terbanyak di Indonesia.

 

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2007 menunjukkan, prevalensi hepatitis B di Indonesia 9,4 persen. Diperkirakan, 28 juta orang Indonesia terinfeksi virus hepatitis B dan C serta 2,8 juta kasus di antaranya jadi kronis.

 

Senior Research Fellow and Specialist Physician Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof David Handojo Muljono, mengatakan, Riskesdas 2007 menunjukkan, ada 7,32 persen populasi di kelompok usia 1-4 tahun yang punya antigen hepatitis B (HBsAg) positif. Artinya, ada anak balita terinfeksi hepatitis dari ibunya.

 

Dalam kajian serologi dan biomolekuler pada 943 ibu hamil di Makassar, Sulawesi Selatan, Juni-Agustus 2014, ditemukan 6,8 persen ibu hamil positif hepatitis B. Virus itu ditemukan pada tali pusat (10,93 persen) dan plasenta (21,67 persen).

 

Seumur hidup

 

Bayi yang terinfeksi virus hepatitis B dari ibunya akan hidup dengan virus itu dalam tubuhnya seumur hidup. Jika tak dikendalikan, hepatitis akan jadi kronis dan berujung pada pengerasan hati (sirosis), bahkan kanker hati. Itu akan mempersulit pengobatan dan membutuhkan biaya amat besar.

 

Hepatitis yang pada fase awal tak menimbulkan gejala spesifik itu muncul kapan saja dan merenggut nyawa dalam senyap. Banyak pasien hepatitis B baru berobat setelah terjadi sirosis.

 

Meski banyak orang terinfeksi hepatitis B dan jadi sumber penularan bagi orang lain, kesadaran warga terhadap pentingnya imunisasi bagi anaknya belum sepenuhnya terbangun. Banyak orang menyepelekan, bahkan menolak imunisasi.

 

Padahal, penularan hepatitis B dari ibu ke bayi bisa dicegah dengan imunisasi. Pemerintah juga menerapkan program nasional imunisasi hepatitis B (HB) sejak 1997. Namun, kasus hepatitis B di Indonesia tetap tinggi akibat cakupan imunisasi rendah dan tak lengkap.

 

Data Direktorat Surveilans, Imunisasi, Karantina, dan Kesehatan Matra (Simkarkesma) Kementerian Kesehatan 2014 memperlihatkan, cakupan imunisasi hepatitis B pada bayi kurang dari 7 hari 85,8 persen. Namun, imunisasi HB pada bulan pertama, kedua, dan ketiga setelah lahir kurang dari 55 persen. Cakupan imunisasi HB kombinasi pentavalen 5 antigen DPT-HB-Hib bulan pertama setelah lahir hanya 52 persen.

 

Kondisi per 22 Juli 2015 menunjukkan, cakupan imunisasi pada bayi lahir kurang dari 7 hari hanya 35 persen. Cakupan imunisasi DPT-HB-Hib bulan pertama, kedua, dan ketiga setelah lahir berturut-turut ialah 37,4 persen, 36,8 persen, dan 36,6 persen.

 

Direktur Simkarkesma Kemenkes Wiendra Waworuntu menjelaskan, banyak orangtua merasa cukup dengan imunisasi saat bayi lahir. Mereka tak kembali datang ke fasilitas kesehatan untuk melengkapi imunisasi dasar lengkap anak mereka. "Banyak orangtua tak datang ke posyandu untuk memeriksakan anaknya sehingga imunisasi dasar lengkap pada bayinya terhenti," kata Wiendra.

 

Anggota Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Hartono Gunardi, menekankan pentingnya imunisasi HB pada bayi baru lahir kurang dari 12 jam. "Imunisasi tak lebih dari 12 jam setelah lahir bisa melindungi anak dari virus hepatitis B 60-70 persen," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Hepatitis A
Hepatitis A
PENYAKIT
Hepatitis D
Hepatitis D
PENYAKIT
Hepatitis B
Hepatitis B
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gairah Seks Menurun Setelah Menopause, Begini Cara Mengatasinya

Gairah Seks Menurun Setelah Menopause, Begini Cara Mengatasinya

Health
7 Penyebab Ambeien Berdarah yang Perlu Diwaspadai

7 Penyebab Ambeien Berdarah yang Perlu Diwaspadai

Health
Parafimosis

Parafimosis

Penyakit
11 Penyebab Tenggorokan Terasa Panas yang Bisa Terjadi

11 Penyebab Tenggorokan Terasa Panas yang Bisa Terjadi

Health
Asam Urat

Asam Urat

Penyakit
Mengenal Indeks Glikemik pada Makanan dan Efeknya Pada Tubuh

Mengenal Indeks Glikemik pada Makanan dan Efeknya Pada Tubuh

Health
Nyeri Mata

Nyeri Mata

Penyakit
Tanda-Tanda Si Kecil Siap Memulai MPASI

Tanda-Tanda Si Kecil Siap Memulai MPASI

Health
Kutil

Kutil

Penyakit
7 Penyebab Faringitis yang Perlu Diwaspadai

7 Penyebab Faringitis yang Perlu Diwaspadai

Health
Amnesia

Amnesia

Penyakit
9 Penyebab Sering Berdeham, Termasuk Bisa Jadi Gejala Penyakit

9 Penyebab Sering Berdeham, Termasuk Bisa Jadi Gejala Penyakit

Health
Mitos atau Fakta, Sering Marah Bikin Darah Tinggi?

Mitos atau Fakta, Sering Marah Bikin Darah Tinggi?

Health
Hepatitis D

Hepatitis D

Penyakit
16 Gejala Laryngopharyngeal Reflux (LPR) yang Perlu Diwaspadai

16 Gejala Laryngopharyngeal Reflux (LPR) yang Perlu Diwaspadai

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.