Kompas.com - 08/10/2015, 16:13 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Anjuran untuk tidur terpisah antara ibu dan bayi sudah sering disuarakan oleh American Academy of Pediatrics (APP) dan National Institute of Health. Membiarkan bayi tidur sendiri dalam boks dinilai akan menjauhkan bayi dari sumber bahaya, seperti selimut dan bantal yang berpotensi menutup saluran pernapasan, mainan yang bisa melukai bayi, ataupun tubuh orangtua yang mungkin saja menindih bayi saat sedang tidur.


Sehingga, APP menyimpulkan bahwa tidur satu ranjang bersama bayi akan meningkatkan risiko kematian pada bayi di usia kurang dari 1 tahun.

Namun, pendapat tersebut kini tak lagi mutlak. James McKenna, Direktur Mother-Baby Behavioral Sleep Laboratory di University of Notre Dame, malah mendukung ibu untuk melakukan breastsleeping.

Dalam laporan yang diterbitkan oleh Acta Paediatrica, McKenna berpendapat bahwa seorang ibu sebaiknya kembali melakukan breastsleeping, yaitu kombinasi antara waktu tidur bayi dan waktu menyusui. Dengan kata lain, ia menganjurkan ibu dan bayi untuk tidur satu ranjang sehingga bebas untuk menyusui. Sebuah kegiatan yang menurut McKenna sudah ada sejak ribuan tahun lalu.

“Mungkin pada tahun 2015 kita telah hidup di masa urban, diatur oleh pola kehidupan modern. Namun, gaya breastsleeping merupakan metode tertua yang telah lama dilakukan oleh umat manusia,” papar McKenna kepada Huffington Post.

Baginya, tidur seranjang dengan bayi memiliki banyak manfaat, baik bagi ibu maupun bayi. Salah satunya seperti penelitian McKenna yang pernah diterbitkan dalam American Journal of Physical Anthropology.

Bahwa pasangan ibu-bayi yang berbagi tempat tidur memiliki dua kali jumlah sesi menyusui ketimbang mereka yang tidur terpisah. Sehingga, akan mendukung kedekatan ibu dan bayi, di samping membuat bayi mendapat ASI lebih banyak yang baik bagi kesehatan tumbuh kembangnya.

“Akhirnya ibu yang memutuskan tidur terpisah akan menyusui bayinya di kursi goyang, sambil berdiri, atau duduk di lantai sambil mengantuk. Hal itu jauh lebih berbahaya ketimbang menyusui di ranjang. Sayangnya, APP terlalu fokus mengampanyekan agar ibu-bayi tidur terpisah, tetapi tak memberi solusi bagaimana tidur satu ranjang yang aman,” lanjut McKenna.

Walau begitu, Dr Michael H Goodstein, profesor klinis pediatrik dari Pennsylvania State University yang juga merupakan anggota APP, memberikan tanggapan, McKenna kurang memaparkan risiko apa saja yang mungkin terjadi saat ibu-bayi tidur satu ranjang.


APP sebenarnya juga sangat mendukung kedekatan ibu dan bayi. Walau ibu-bayi tidur terpisah, tetapi tetap dianjurkan untuk tidur di kamar yang sama agar bayi di bawah 1 tahun lebih mudah terpantau oleh orangtua.

McKenna dan APP akhirnya sepakat bahwa bayi sebaiknya tidak tidur bersama balita lain, tidak menggunakan matras air atau matras yang terlalu empuk, serta tempat tidur tanpa pelindung samping. McKenna juga tidak menyarankan untuk seranjang dengan bayi prematur karena alasan keselamatan. Sedangkan untuk opsi apakah ibu akan tidur seranjang dengan bayi, pilihan tersebut dikembalikan kepada masing-masing orangtua.

McKenna menyarankan para orangtua untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter anak sebelum mengambil langkah ini, ataupun segala bentuk rencana kesehatan yang berhubungan dengan bayi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Merasa Sakit di Bawah Payudara Kiri? Kenali Penyebabnya

Merasa Sakit di Bawah Payudara Kiri? Kenali Penyebabnya

Health
Oligomenore

Oligomenore

Penyakit
Mengapa Gigitan Nyamuk Terasa Gatal di Kulit?

Mengapa Gigitan Nyamuk Terasa Gatal di Kulit?

Health
Tromboflebitis

Tromboflebitis

Penyakit
Nyeri Lengan Kiri Bisa Jadi Gejala Serangan Jantung, Kenali Gejalanya

Nyeri Lengan Kiri Bisa Jadi Gejala Serangan Jantung, Kenali Gejalanya

Health
Bayi Berat Lahir Rendah

Bayi Berat Lahir Rendah

Penyakit
Bagaimana Penyakit Liver Bisa Menyebabkan Muntah Darah?

Bagaimana Penyakit Liver Bisa Menyebabkan Muntah Darah?

Health
Insufisiensi Aorta

Insufisiensi Aorta

Penyakit
10 Penyebab Darah Haid Sedikit, Bisa Faktor Usia sampai Penyakit

10 Penyebab Darah Haid Sedikit, Bisa Faktor Usia sampai Penyakit

Health
Limfoma Non-Hodgkin

Limfoma Non-Hodgkin

Penyakit
Awas, Sering Tahan Kecing Bisa Bikin Infeksi Saluran Kemih

Awas, Sering Tahan Kecing Bisa Bikin Infeksi Saluran Kemih

Health
Ekolalia

Ekolalia

Penyakit
3 Dampak Stres Saat Hamil dan Cara Mengatasinya

3 Dampak Stres Saat Hamil dan Cara Mengatasinya

Health
Punya Fantasi Seks Tak Realistis? Bisa Jadi Gejala Narsisme Seksual

Punya Fantasi Seks Tak Realistis? Bisa Jadi Gejala Narsisme Seksual

Health
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.