Kompas.com - 10/11/2015, 09:01 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Terasa bukan sebuah masalah bila Anda tinggal di lingkungan yang dekat dengan restoran penyedia fast food. Malah, terbilang cukup memudahkan bila tak sempat masak sendiri.

Namun, kemudahan tersebut ternyata tak memberi dampak positif bagi bayi maupun anak-anak. Sebab, menurut sebuah penelitian, situasi tersebut bisa berpengaruh pada pertumbuhan tulang mereka.

Para peneliti dari University of Southampton di Inggris menemukan, semakin banyak terdapat restoran cepat saji di sekitar tempat tinggal, semakin besar pula kemungkinan anak-anak tumbuh dengan tulang yang lemah.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Osteoporosis tersebut juga mengungkapkan seberapa besar pengaruh lingkungan terhadap perkembangan anak pada usia yang sangat dini.

“Di mana Anda dibesarkan kemungkinan memiliki dampak yang kuat pada pemilihan makanan. Sehingga, bila tumbuh di lingkungan yang kaya akan makanan cepat saji, maka jenis makanan itulah yang cenderung menjadi pilihan,” papar para peneliti.

Untuk mendapatkan hasil yang pasti, para peneliti meneliti kepadatan tulang dan kandungan mineral tulang dari 1.107 anak-anak saat mereka lahir. Dilanjutkan saat mereka berusia 4-6 tahun.

Hasilnya, anak-anak yang lahir di lingkungan dengan kelimpahan rantai makanan cepat saji memiliki kesehatan tulang yang lebih buruk ketimbang anak-anak yang tinggal di dekat toko yang menjual sayur segar dan makanan sehat lain. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan sehat, memiliki kepadatan tulang yang lebih baik ketimbang anak-anak yang tinggal di lingkungan sebaliknya.

“Temuan ini menunjukkan bahwa paparan makanan cepat saji pada ibu hamil dapat menimbulkan risiko kesehatan tulang pada bayi. Begitu juga paparan terhadap anak-anak di usia dini, bisa mempengaruhi kepadatan tulang mereka. Untuk itu, diet sehat ibu hamil dan pilihan makanan selama masa kanak-kanak sangatlah penting demi pertumbuhan tulang anak yang optimal,” kata penulis studi Siprus Cooper, ketua International Osteoporosis Foundation.

Menurut National Institute of Arthritis and Musculoskeletal Skin Diseases (NIAMS), saat anak laki-laki berusia 20 dan anak-anak perempuan berusia 18, tulang mereka seharusnya sudah berkembang 90 persen. Lalu berhenti tumbuh di awal usia 20an. Itu sebabnya, mengapa orangtua disarankan berinvestasi dalam kesehatan tulang anak-anak mereka sejak anak-anak berusia dini.

Protein, kalsium vitamin D, buah-buahan, serta sayuran semua memiliki dampak positif terhadap kesehatan tulang. Para peneliti percaya bahwa penemuan mereka ini bisa menjadi awal yang tepat bagi sejumlah restoran atau toko makanan sehat untuk berkembang.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.