Kompas.com - 16/12/2015, 07:35 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Menggunakan antidepresan selama kehamilan sangat meningkatkan risiko autisme, ungkap Profesor Anick Berard dari University of Montreal dan Rumah Sakit  Anak CHU Sainte-Justine. Prof. Berard adalah seorang ahli di bidang keselamatan farmasi selama kehamilan.

"Penyebab pasti autisme masih belum jelas, tetapi penelitian menunjukkan bahwa genetika dan lingkungan dapat memainkan peran memicu kondisi autis," jelasnya.

Penelitian ini mengungkapkan, bahwa mengonsumsi antidepresan selama trimester kedua atau ketiga kehamilan dapat menggandakan risiko anak divonis autis pada usianya yang ke-7 tahun, terutama jika jenis obat yang diminum ibu adalah jenis selective serotonin reuptake atau sering dikenal dengan singkatan SSRI. Temuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal JAMA Pediatrics.

Berard dan rekan-rekannya bekerja dengan data dari Quebec Pregnancy Cohort  memelajari kondisi 145.456 anak-anak antara waktu konsepsi mereka sampai usia sepuluh tahun.

Selain informasi tentang penggunaan antidepresan oleh ibu dan diagnosa autisme pada anak-anak tersebut, mereka juga menggali informasi mengenai beberapa hal lain seperti  berapa orang yang secara genetik cenderung untuk autisme, usia ibu, depresi yang diderita ibu terkait dengan perkembangan autisme, serta faktor sosial-ekonomi keluarga mereka.

Para peneliti memerhatikan konsekuensi paparan antidepresan  pada ibu yang telah mengonsumsi satu atau lebih obat-obatan itu selama trimester kedua atau ketiga kehamilan. Menurut Prof. Berard, periode tersebut adalah periode kritis perkembangan otak bayi.

"Kemudian kami mengidentifikasi  catatan rumah sakit yang menunjukkan diagnosa gangguan perkembangan yang dialami anak-anak itu, yaitu  autisme atipikal dan sindrom Asperger atau gangguan perkembangan pervasif. Selanjutnya kami  mencari hubungan statistik antara kedua kelompok tersebut, dan menemukan  peningkatan risiko autis hingga  87% pada anak-anak yang ibunya mengonsumsi antidepresan di periode emas perkembangan otak janin."

Secara biologis, hal ini masuk akal. Pasalnya, serotonin terlibat dalam berbagai proses perkembangan pra dan pasca melahirkan, termasuk pembelahan sel, migrasi neuron, diferensiasi sel dan synaptogenesis.

Beberapa kelas anti-depresan bekerja dengan cara menghambat serotonin (SSRI dan beberapa kelas antidepresan lain). Hal ini menimbulkan dampak negatif pada kemampuan otak untuk sepenuhnya berkembang dan beradaptasi di dalam rahim.

Organisasi Kesehatan Dunia menduga, depresi akan menjadi penyebab kematian nomor dua  pada tahun 2020.

"Apa yang kami kerjakan ini memberikan kontribusi untuk memberikan  pemahaman yang lebih baik, mengenai perkembangan saraf jangka panjang dan efek anti-depresan yang digunakan selama kehamilan. Kami merasa bertanggungjawab untuk mengungkap hal ini, karena penggunaan antidepresan yang cukup banyak di masyarakat," jelas Prof. Berard.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.