Kompas.com - 17/01/2016, 18:59 WIB
Ilustrasi Rokok elektronik. ShutterstockIlustrasi Rokok elektronik.
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Di tengah kontroversi sehat dan tidaknya penggunaan rokok elektronik, sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Lancet Respiratory Medicine pada 14 Januari lalu mendapati, rokok elektronik bahkan menurunkan kemungkinan para perokok untuk menghentikan kebiasaan menghirup tembakau sebanyak 28 persen. Sehingga, dinilai sangat tidak efektif.

"Kami menemukan bahwa penggunaan rokok elektronik tidak menunjukkan efek yang signifikan dalam membantu menghentikan kebiasaan merokok," kata penulis senior studi Stanton Glantz, profesor dari Pusat Penelitian, Pendidikan, dan Pengendalian Tembakau University of California, San Francisco.

"Rokok elektronik sedang dipromosikan sebagai sarana yang lebih “sehat” untuk berhenti merokok, tapi nyatanya, rokok elektronik benar-benar memiliki efek sebaliknya."

Rokok elektronik sendiri merupakan perangkat bertenaga baterai yang menggunakan panas untuk membuat uap beraroma tertentu yang dihirup oleh pengguna.

Para pelaku industri rokok elektronik dan "vaping" mendukung pendapat, bahwa perangkat tersebut merupakan alternatif sehat untuk menggantikan rokok tembakau tradisional, karena pengguna tidak menghirup asap karsinogenik.

Mereka juga telah mengklaim bahwa perokok bisa menggunakan rokok elektronik untuk menyapih diri dari tembakau.

Namun klaim tersebut mendapati komentar sebaliknya dari komunitas medis. Misalnya, pada tahun 2015, US Preventive Services Task Force menyimpulkan tidak ada bukti yang cukup untuk merekomendasikan rokok elektronik untuk membantu orang dewasa berhenti merokok.

Untuk melihat apakah penelitian terbaru tentang rokok elektronik mendukung klaim industri atau sebaliknya, tim Glantz ini melakukan ulasan pada 38 studi dan menilai hubungan antara penggunaan rokok elektronik dan penghentian rokok di kalangan perokok dewasa.

Para peneliti kemudian menggabungkan hasil dari 20 studi untuk membandingkan kebiasaan perokok yang tidak menggunakan rokok elektronik dengan perokok yang menggunakan rokok elektronik untuk melihat kemungkinan berhenti merokok.

Para peneliti menyimpulkan, kemungkinan berhenti merokok justru menurun sebanyak 28 persen pada perokok yang menggunakan rokok elektronik dibandingkan dengan mereka yang tidak.  

Dr Norman Edelman, penasihat ilmiah senior untuk American Lung Association mengatakan, rokok elektronik cenderung mengganggu upaya berhenti merokok.

“Rokok elektronik membuat perokok ketagihan dengan memungkinkan mereka untuk menghisap rokok elektronik di dalam ruangan, di tempat-tempat di mana merokok tembakau dilarang,” kata Cliff Douglas, direktur American Cancer Society Tobacco Control Center. "Itu kebalikan dari penghentian. Itu mendorong kecanduan yang sedang berlangsung."

Edelman dan Douglas mengatakan, studi baru ini menunjukkan mengapa US Food and Drug Administration perlu meninjau ulang kehadiran rokok elektronik sesegera mungkin.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber MSN.com
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.