Kompas.com - 21/01/2016, 20:15 WIB
Ilustrasi Ilustrasi
|
EditorBestari Kumala Dewi
JAKARTA, KOMPAS.com - Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Akan tetapi, penggunaan antibiotik tak boleh sembarangan. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa mennyebabkan sesorang mengalami resistensi antibiotik atau bakteri dalam tubuh tak lagi mempan diatasi dengan antibiotik.

"Antibiotik bukan untuk mencegah infeksi bakteri dan virus. Kalau enggak perlu antibiotik ya enggak usah," ujar Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba ( KPRA) Kementerian Kesehatan RI, dokter Harry Parathon dalam diskusi di Jakarta, Kamis (21/1/2016).

Harry menjelaskan, resistensi antibiotik bisa disebabkan oleh ketidakpatuhan pasien menggunakan antibiotik. Selain itu, juga karena kebiasaan minum antibiotik saat sakit sehingga penggunaannya berlebihan.

Harry menyayangkan, masyarakat bisa dengan mudah membeli antibiotik di apotek, warung, atau kios. Padahal, antibiotik tidak boleh dijual bebas dan hanya bisa diberikan berdasarkan resep dokter. Bahkan, sejumlah masyarakat di Indonesia diketahui menyimpan antibiotik cadangan di rumah.

Ancaman resistensi antibiotik membuat tenaga kesehatan dan masyarakat harus bijak dan rasional dalam menggunakan antibiotik.

Harry mengungkapkan, resistensi antibiotik bisa menyebabkan kematian karena antibiotik tak lagi mampu membunuh kuman atau bakteri penyebab penyakit. Resistensi antibiotik kini menjadi permasalahan serius yang dibahas di seluruh dunia.

Pada tahun 2050, diperkirakan ada 10.000.000 kematian akibat resistensi antimikroba tiap tahunnya, termasuk 4,6 juta kematian di Asia.

Di Thailand, angka kematian akibat resistensi antibiotik mencapai 38.000 orang per tahun dan di Indonesia diperkirakan 135.000 orang meninggal per tahunnya karena resistensi antibiotik.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Selain Kecanduan, Pengguna Ganja Lebih Berisiko Alami Stroke

Selain Kecanduan, Pengguna Ganja Lebih Berisiko Alami Stroke

Health
Coxsackie

Coxsackie

Penyakit
Demam saat Haid, Apakah Normal?

Demam saat Haid, Apakah Normal?

Health
Hipotensi Ortostatik

Hipotensi Ortostatik

Penyakit
Apa Bahaya Sering Menahan Kencing?

Apa Bahaya Sering Menahan Kencing?

Health
Sindrom ACA

Sindrom ACA

Penyakit
Benarkah Nasi Tidak Boleh Dipanaskan Lagi?

Benarkah Nasi Tidak Boleh Dipanaskan Lagi?

Health
Astrositoma

Astrositoma

Penyakit
4 Penyebab Kram pada Tangan

4 Penyebab Kram pada Tangan

Health
Divertikulum Meckel

Divertikulum Meckel

Penyakit
8 Penyebab Gatal Tanpa Ruam pada Kulit, Bisa Jadi Gejala Kanker

8 Penyebab Gatal Tanpa Ruam pada Kulit, Bisa Jadi Gejala Kanker

Health
Trombosis Vena Dalam (DVT)

Trombosis Vena Dalam (DVT)

Penyakit
Myelofibrosis

Myelofibrosis

Penyakit
5 Makanan Pantangan Penderita Penyakit Liver

5 Makanan Pantangan Penderita Penyakit Liver

Health
Hiperpituarisme

Hiperpituarisme

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.